Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Diplomatik AS dan Iran

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Diplomatik AS dan Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Diplomatik AS dan Iran.

Harga minyak mentah global mengalami kenaikan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidaksabarannya terhadap kebuntuan kesepakatan damai dengan Iran di tengah ancaman gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Dilansir dari Suara, harga minyak Brent melonjak di atas 2 persen ke posisi US$ 108,25 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni meningkat menjadi US$ 103,76 per barel. Gejolak pasar energi ini merupakan dampak langsung dari meningkatnya risiko geopolitik di jalur utama distribusi minyak dunia.

Kekhawatiran para pelaku pasar diperparah oleh potensi penerapan tarif sepihak dan ancaman keamanan di sekitar Selat Hormuz. Kondisi tersebut memicu spekulasi terhadap stabilitas pasokan energi global jika konflik antara Washington dan Teheran terus meruncing tanpa solusi diplomasi yang jelas.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan rasa frustrasinya melalui wawancara televisi terkait proses negosiasi yang tidak kunjung membuahkan hasil. Trump menegaskan bahwa pihak Iran harus segera mengambil langkah nyata untuk mencapai kesepakatan.

"I tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan," tegas Trump.

Pemimpin Amerika Serikat tersebut juga mengeklaim telah menjalin komunikasi dengan Presiden China Xi Jinping mengenai situasi keamanan maritim di kawasan tersebut. Ia menyebut Beijing memiliki kepentingan yang sama untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas kapal di jalur tersebut.

"Presiden China tidak menyukai fakta bahwa Iran mengenakan biaya tol kepada kapal-kapal yang melintasi Hormuz," tambah Trump.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberikan konfirmasi mengenai keterlibatan China dalam upaya menstabilkan kawasan tersebut secara tertutup. Langkah ini dinilai strategis mengingat ketergantungan besar ekonomi China terhadap pasokan energi yang melewati Selat Hormuz.

Di sisi lain, Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri mengeluarkan pernyataan yang lebih berhati-hati dengan menekankan pentingnya solusi damai. Beijing mengingatkan bahwa eskalasi militer tidak akan memberikan hasil positif bagi pihak mana pun yang terlibat dalam konflik.

"Menemukan cara untuk menyelesaikan situasi ini secepat mungkin adalah kepentingan bukan hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga negara-negara regional dan seluruh dunia," ujar juru bicara Kemenlu China.

Artikel terkait

Rekomendasi