Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan lebih dari 3 persen pada sesi perdagangan Jumat (15/5/2026) dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini memperburuk ketidakpastian di jalur distribusi energi global.
Berdasarkan data perdagangan yang dilansir dari Investor Daily, minyak jenis Brent ditutup naik US$ 3,54 atau 3,35 persen ke posisi US$ 109,26 per barel. Secara bersamaan, minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$ 4,25 atau 4,2 persen menuju level US$ 105,42 per barel.
Kenaikan tajam ini terjadi setelah harapan akan kesepakatan damai untuk mengakhiri gangguan pelayaran di Selat Hormuz mulai pupus. Analis Commerzbank mencatat bahwa hubungan kedua negara kembali memanas sehingga peluang pembukaan jalur vital tersebut dalam waktu dekat kian menipis.
"Meskipun gencatan senjata masih bertahan, harapan pembukaan cepat Selat Hormuz mulai memudar," tulis analis Commerzbank dalam risetnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan posisi tegas negaranya terhadap tekanan dari Washington. Ia menegaskan bahwa pihak Teheran hanya akan bernegosiasi jika ada keseriusan nyata dari pihak Amerika Serikat.
"Iran tidak memiliki kepercayaan terhadap AS dan hanya bersedia bernegosiasi jika Washington benar-benar serius," ujar Abbas Araqchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Ia juga menambahkan kesiapan militer Iran apabila eskalasi terus berlanjut di wilayah perairan tersebut.
"Namun, Iran juga disebut siap kembali bertempur apabila situasi memburuk," kata Abbas Araqchi.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesabarannya terhadap Teheran hampir habis. Trump mengaku telah berkoordinasi dengan Presiden China Xi Jinping mengenai pembatasan senjata nuklir dan pembukaan Selat Hormuz.
Pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, mengamati bahwa fokus utama pasar saat ini adalah risiko militer di jalur tersebut.
"Fokus pasar kini kembali tertuju pada kebuntuan pembukaan Selat Hormuz dan risiko meningkatnya eskalasi militer," ujar Vandana Hari, Pendiri Vanda Insights.
Analis PVM, Tamas Varga, turut memberikan pandangan mengenai dinamika lalu lintas kapal yang terjadi di tengah konflik.
"Peningkatan lalu lintas kapal saat ini lebih banyak memengaruhi sentimen pasar dibanding keseimbangan pasokan minyak global secara langsung," kata Tamas Varga, Analis PVM.
Meskipun aktivitas pelayaran mulai terlihat, angkanya masih jauh di bawah rata-rata normal. Kekhawatiran mengenai penipisan cadangan minyak global juga disampaikan oleh analis Price Futures Group, Phil Flynn.
"Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berpotensi memicu kekurangan produk energi dan mendorong harga minyak terus naik dalam beberapa pekan hingga bulan mendatang," ucap Phil Flynn, Analis Price Futures Group.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Selain ketegangan di Timur Tengah, serangan Ukraina terhadap fasilitas kilang minyak Rusia turut menambah tekanan pada pasokan energi global.