Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Senin (28/4/2024) akibat kegagalan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Dilansir dari Suara, eskalasi ketegangan geopolitik dan potensi gangguan logistik di Selat Hormuz memicu lonjakan harga hingga menembus level tertinggi sejak awal April.
Minyak mentah berjangka Brent mencatatkan kenaikan sebesar USD 2,16 atau 2,05 persen hingga mencapai posisi USD 107,49 per barel. Kondisi serupa terjadi pada minyak West Texas Intermediate (WTI) AS yang terkerek naik USD 1,77 atau 1,88 persen ke angka USD 96,17 per barel.
Laju penguatan ini memperpanjang tren positif dari pekan sebelumnya, di mana Brent dan WTI masing-masing telah tumbuh sebesar 17 persen dan 13 persen. Ketidakpastian diplomatik memuncak setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan pengiriman utusan ke Pakistan, meskipun Menteri Luar Negeri Iran telah berada di lokasi untuk berdialog.
Analis pasar IG, Tony Sycamore berpendapat bahwa keputusan Washington tersebut memberikan beban psikologis yang sangat besar terhadap stabilitas pasar global.
"Langkah ini mengembalikan kendali sepenuhnya ke tangan Iran, dan waktu terus berjalan dengan cepat," ujar Sycamore.
Penghentian aktivitas diplomatik ini dikhawatirkan akan mengganggu aliran pasokan minyak mentah dunia dari kawasan Timur Tengah. Sycamore memberikan peringatan mengenai dampak teknis yang mungkin terjadi pada fasilitas produksi energi di Teheran jika situasi terus memburuk.
"Ia memperingatkan, jika ketegangan terus berlanjut, Teheran kemungkinan terpaksa menutup ladang minyak tua mereka apabila fasilitas penyimpanan sudah menyentuh batas maksimal," kata Sycamore.
Menanggapi risiko guncangan energi tersebut, raksasa perbankan investasi Goldman Sachs melakukan revisi proyeksi harga. Lembaga ini kini memprediksi harga Brent akan menyentuh USD 90 per barel dan WTI berada di level USD 83 per barel pada kuartal keempat mendatang.
Ketua tim analis Goldman Sachs, Daan Struyven menegaskan bahwa skala ancaman ekonomi saat ini telah melampaui perhitungan yang dibuat sebelumnya oleh para pengamat pasar.
"Ada risiko kenaikan bersih terhadap harga minyak dan produk olahan yang luar biasa tinggi. Kita menghadapi skala guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tegas Struyven.
Saat ini, kombinasi antara hambatan distribusi di Selat Hormuz dan kebuntuan jalur diplomasi menempatkan pasar energi internasional dalam kondisi waspada tinggi.