Harga Minyak Dunia Turun Setelah Negosiasi Amerika Serikat dan Iran

Harga Minyak Dunia Turun Setelah Negosiasi Amerika Serikat dan Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Turun Setelah Negosiasi Amerika Serikat dan Iran.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat dilaporkan turun 60 sen atau 0,6 persen ke level US$ 97,66 per barel akibat meredanya kekhawatiran pasar, dilansir dari Internasional. Penurunan ini menyusul anjloknya kedua kontrak acuan sebesar 5,6 persen pada Rabu (20/5) setelah adanya perkembangan negosiasi geopolitik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan pihak Iran kini telah memasuki tahap akhir. Kantor berita ISNA Iran mengabarkan bahwa Teheran saat ini sedang memberikan respons terhadap proposal yang telah dikirimkan oleh pihak Amerika Serikat.

"jawaban yang tepat" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump sembari menegaskan dirinya masih dapat menunggu beberapa hari untuk sikap Iran. Kendati demikian, pihak Amerika Serikat tetap membuka peluang untuk melanjutkan serangan militer apabila kesepakatan kedua belah pihak gagal tercapai.

Di sisi lain, pergerakan pasar ini ditanggapi dengan sikap waspada oleh para pengamat ekonomi internasional karena rekam jejak situasi serupa sebelumnya. Analis dari lembaga ING menyatakan bahwa pasar sudah beberapa kali menghadapi situasi yang mirip, namun pada akhirnya tetap berujung pada kekecewaan.

Meskipun ada potensi kekecewaan dalam kesepakatan tersebut, pihak ING tidak mengubah proyeksi jangka pendek mereka terkait harga komoditas energi ini. ING tetap memperkirakan rata-rata harga minyak jenis Brent akan berada di sekitar level US$ 104 per barel pada kuartal ini.

Konflik geopolitik ini sebelumnya telah berdampak besar pada jalur distribusi energi di Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup. Iran sempat memperingatkan akan adanya kemungkinan serangan lanjutan dan memperketat kendali atas selat yang menyalurkan 20 persen konsumsi minyak dan gas alam cair global sebelum konflik pecah.

Meskipun gangguan di kawasan Timur Tengah tergolong besar, kondisi pasar global dinilai masih mampu mengantisipasi dampak stabilitas pasokan energi tersebut. Analis minyak dan gas global senior HSBC Kim Fustier mengatakan bahwa harga minyak sejauh ini masih relatif terkendali meski gangguan di Timur Tengah cukup besar.

Fustier menambahkan bahwa penurunan pembelian dari China serta lonjakan ekspor minyak dari kawasan Atlantik, terutama Amerika Serikat, turut memberikan dampak besar. Faktor pelepasan cadangan minyak komersial dan strategis juga dinilai membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan pasokan dalam jangka pendek.

Kondisi pasar energi global saat ini juga semakin tertekan oleh kontraksi aktivitas ekonomi yang terjadi di kawasan zona euro akibat lonjakan biaya hidup akibat perang. Penutupan Selat Hormuz sendiri terjadi sejak 28 Februari lalu akibat serangan AS dan Israel, yang kemudian direspons Iran dengan membentuk Persian Gulf Strait Authority pada Rabu untuk mengelola zona maritim tersebut.

Akibat gangguan pasokan ini, banyak negara terpaksa menguras cadangan minyak strategis mereka secara agresif, termasuk Amerika Serikat yang menarik hampir 10 juta barel pekan lalu menurut data U.S. Energy Information Administration. Kepala peneliti energi dan kimia China Futures, Mingyu Gao, memperingatkan jika Selat Hormuz tetap tertutup, persediaan minyak mentah dan produk olahan global dapat turun ke level terendah musiman dalam lima tahun terakhir pada akhir Mei hingga Juni mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi