Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Negosiasi Amerika Serikat dan Iran

Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Negosiasi Amerika Serikat dan Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Negosiasi Amerika Serikat dan Iran.

Nilai tukar minyak mentah global mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Kamis (7/5/2026) waktu setempat akibat dinamika konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang memicu volatilitas pasar. Pelemahan ini terjadi setelah Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan mencabut larangan penggunaan wilayah udara serta pangkalan militer bagi operasional Washington.

Dilansir dari Money, harga minyak mentah Brent merosot sebesar 1,21 dollar AS atau 1,2 persen menjadi 100,06 dollar AS per barrel. Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mencatatkan penurunan 27 sen atau 0,28 persen ke level 94,81 dollar AS per barrel.

Keputusan Arab Saudi dan Kuwait tersebut memungkinkan Amerika Serikat untuk kembali menjalankan misi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz melalui operasi "Project Freedom". Optimisme pasar terhadap kemungkinan kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran sempat membuat kedua acuan minyak dunia anjlok hingga 5 dollar AS per barrel pada sesi sebelumnya.

Analis SEB Research, Ole Hvalbye, menyatakan bahwa kepastian tercapainya kesepakatan akan memberikan tekanan lebih lanjut pada harga energi global. Penurunan harga diprediksi akan berlangsung secara signifikan jika pakta tersebut terkonfirmasi secara resmi.

"Kesepakatan yang terkonfirmasi kemungkinan akan membawa harga Brent kembali ke kisaran 80 dollar AS hingga 90 dollar AS per barrel dengan cepat," ujar Ole Hvalbye, Analis SEB Research.

Meskipun demikian, Hvalbye memberikan peringatan keras mengenai potensi lonjakan harga jika diplomasi mengalami kegagalan. Ia menilai perubahan strategi militer oleh Presiden Donald Trump dapat memicu instabilitas harga di pasar fisik maupun kontrak berjangka.

"Jika pembicaraan gagal atau Trump kembali memilih serangan, harga bisa langsung melesat di atas 120 dollar AS per barrel," kata Ole Hvalbye, Analis SEB Research.

Menteri Energi AS, Chris Wright, melaporkan bahwa Iran telah memangkas produksi minyaknya hingga 400.000 barrel per hari. Langkah ini diambil oleh Teheran lantaran kapasitas fasilitas penyimpanan minyak mereka telah mendekati batas maksimal.

Situasi keamanan di jalur perdagangan internasional juga kembali memanas menyusul laporan media China, Caixin, tentang serangan terhadap sebuah kapal tanker milik perusahaan Tiongkok di dekat Selat Hormuz. Insiden pada hari Senin tersebut menjadi momen pertama kalinya aset minyak China menjadi sasaran serangan dalam konflik ini.

Krisis di Timur Tengah ini turut menjadi fokus bahasan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang digelar di Cebu, Filipina, pada 7-8 Mei 2026. Para pemimpin Asia Tenggara menekankan pentingnya persatuan kawasan untuk menghadapi dampak ekonomi akibat ketergantungan pada impor energi dari luar wilayah.

Artikel terkait

Rekomendasi