Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ketidakpastian Damai AS dan Iran

Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ketidakpastian Damai AS dan Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ketidakpastian Damai AS dan Iran.

Pasar energi global kembali diguncang volatilitas tinggi akibat ketidakjelasan masa depan negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini memicu fluktuasi harga setelah sebelumnya sempat melonjak karena ketegangan di Timur Tengah, terutama gangguan di Selat Hormuz.

Dilansir dari Money, harga minyak dunia mencatatkan penurunan signifikan pada perdagangan Selasa (21/4/2026) waktu Asia. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2026 merosot 1,51 persen ke posisi 88,26 dollar AS per barrel.

Penurunan serupa dialami oleh minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni 2026 yang melemah 0,68 persen menjadi 94,87 dollar AS per barrel. Koreksi ini terjadi pasca lonjakan tajam pada hari sebelumnya yang masing-masing mencapai 7 persen dan 5 persen.

Pelemahan harga terjadi saat Wakil Presiden AS JD Vance dikabarkan memimpin delegasi ke Pakistan guna membahas isu Iran. Namun, pihak Iran memberikan sinyal kuat bahwa mereka belum bersedia untuk duduk kembali di meja perundingan.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan penegasan terkait posisi negaranya. Melalui platform X, ia menyatakan sikap menolak negosiasi yang disertai dengan ancaman dari pihak luar.

ÔÇ£Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk mengungkapkan kartu baru di medan pertempuran,ÔÇØ ujarnya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru melontarkan ancaman aksi militer terhadap Iran. Ia memperingatkan bahwa serangan bom akan segera dimulai jika kesepakatan tidak tercapai sebelum masa gencatan senjata berakhir pada Selasa malam.

Dampak Eskalasi Politik Terhadap Pasar

Retorika agresif dari Washington dinilai menjadi penggerak utama volatilitas pasar minyak belakangan ini. Ketegangan semakin memuncak setelah pasukan Amerika Serikat menyita kapal milik Iran pada Minggu (19/4/2026) sebagai bagian dari kebijakan blokade pelabuhan.

Gary Pedersen, Ketua dan CEO Gunvor Group, menyebut dinamika komunikasi politik Trump sangat memengaruhi pergerakan harga. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia menggambarkan situasi ini sebagai taktik pesan politik yang berpengaruh besar pada sentimen pasar.

Menurut Pedersen, meskipun harga sempat turun karena pernyataan Trump tentang potensi perdamaian, pasar sebenarnya belum sepenuhnya menghitung risiko fisik. Risiko tersebut berupa gangguan nyata pada pasokan jika Selat Hormuz benar-benar ditutup.

Ancaman Rantai Pasok di Selat Hormuz

Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial bagi distribusi energi dunia yang sangat sensitif terhadap gangguan keamanan. Rystad Energy mencatat bahwa eskalasi di jalur strategis ini telah memicu revisi besar-besaran terhadap proyeksi harga minyak tahun 2026.

Radhika Bansal, Senior Vice President Rystad Energy, menjelaskan bahwa lonjakan harga di atas 100 dollar AS per barrel dapat mendorong masuknya pasokan baru. Amerika Selatan diprediksi bisa menambah hingga 2,1 juta barrel per hari jika harga terus bertahan di level tinggi.

ÔÇ£Amerika Selatan kini berada di posisi sebagai sumber pasokan tambahan yang paling signifikan di dunia,ÔÇØ kata Radhika Bansal.

Bansal menambahkan bahwa konflik saat ini menunjukkan betapa rentannya struktur pasokan global yang terlalu bergantung pada satu jalur sempit. Krisis di Timur Tengah mengungkap bahaya dari konsentrasi rantai pasokan di sekitar Selat Hormuz.

Perebutan Pasokan Minyak Fisik

Meskipun harga di pasar berjangka mengalami koreksi, ketersediaan minyak mentah secara fisik dilaporkan masih sangat terbatas. Para pembeli global kini beradu cepat untuk mendapatkan sumber energi alternatif guna menggantikan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Pedersen mengungkapkan bahwa ketatnya pasokan fisik ini menciptakan tekanan tambahan yang belum sepenuhnya terlihat pada harga kontrak berjangka. Para pembeli di seluruh dunia mulai mencari pengganti untuk mengamankan stok energi mereka.

ÔÇ£Pasokan minyak mentah fisik tetap sangat terbatas karena para pembeli di seluruh dunia berebut pengganti minyak dari Timur Tengah,ÔÇØ sebutnya.

Salah satu indikasinya terlihat dari pergerakan kapal tanker kosong dari Asia yang menuju Amerika Serikat melewati Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Fenomena ini menciptakan antrean kapal besar di laut dan menegaskan peran AS sebagai pemasok alternatif utama saat krisis.

Proyeksi Volatilitas ke Depan

Dinamika musiman diprediksi akan memperumit pergerakan harga dalam beberapa bulan mendatang. Saat ini pasar berada dalam fase permintaan yang relatif rendah sebelum memasuki puncak musim berkendara pada musim panas mendatang.

Pedersen mengingatkan pelaku pasar agar waspada terhadap periode yang menantang ini. Kombinasi antara pelemahan permintaan musiman dan ketidakpastian geopolitik yang ekstrem dapat memicu guncangan harga yang tak terduga.

ÔÇ£Ini adalah periode yang sedikit lebih menantang dan lebih lunak yang perlu kita waspadai,ÔÇØ terang dia.

Menurut analisisnya, situasi pasar minyak mentah ke depan masih berpotensi sangat bergejolak. Pelaku pasar cenderung bereaksi secara instan terhadap setiap pernyataan pejabat atau perkembangan baru di lapangan karena belum adanya arah kebijakan yang jelas.

ÔÇ£Sejujurnya, situasinya bisa sangat bergejolak,ÔÇØ katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi