Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan setelah adanya pernyataan mengenai penundaan serangan militer terhadap Iran pada Senin (18/5), seperti dilansir dari Internasional. Langkah penundaan tersebut diambil guna membuka ruang negosiasi demi mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah setelah Washington menerima proposal perdamaian baru dari Teheran.
Pernyataan tersebut berdampak langsung pada komoditas energi global dengan penurunan harga minyak Brent sebesar lebih dari 2% menjadi US$ 109,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS ikut merosot 1,3% ke level US$ 107,25 per barel, walaupun posisi kedua harga minyak tersebut masih berada 50% di atas level sebelum perang.
Meskipun demikian, para pelaku pasar modal dan investor di bursa global terpantau masih cenderung bersikap hati-hati. Sikap ini muncul setelah pasar keuangan sempat diguncang oleh aksi serangan drone di Uni Emirat Arab pada akhir pekan sebelumnya.
Kondisi ketidakpastian ini dinilai masih membayangi pergerakan pasar perdagangan internasional dalam jangka pendek. Respons pelaku pasar terhadap situasi di kawasan Timur Tengah ini juga memicu pandangan kritis dari sejumlah pengamat keuangan di pasar komoditas.
"Kita sudah melihat banyak perubahan arah dalam waktu singkat," ujar analis pasar IG, Fabien Yip.
Yip menilai bahwa pergerakan pasar saat ini masih bersifat sementara karena investor menunggu bukti konkret di lapangan terkait jalur pasokan energi. Sikap wait and see kemungkinan besar akan terus berlanjut hingga situasi keamanan di jalur laut utama benar-benar kondusif.
"Selutuhnya tindakan nyata di Selat Hormuz dan lalu lintas kapal belum benar-benar pulih, pasar kemungkinan masih akan mengabaikan komentar dari kedua pihak," tambah Fabien Yip.
Di sektor pasar saham, pergerakan indeks bervariasi dengan penurunan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang sebesar 0,22% dan pelemahan Kospi Korea Selatan sebesar 2%, sementara indeks Nikkei Jepang naik 1%. Kontrak berjangka Nasdaq juga turun 0,07% dan futures S&P 500 melemah 0,03%, sedangkan di Eropa, kontrak futures EUROSTOXX 50, FTSE, dan DAX menguat antara 0,3% hingga 0,4%.
Kini fokus perhatian pelaku pasar global mulai beralih ke sektor teknologi menjelang rilis laporan keuangan mingguan. Laporan kinerja keuangan dari raksasa cip kecerdasan buatan, Nvidia, yang dijadwalkan pada Rabu (20/5) menjadi perhatian utama karena ekspektasi pasar yang sangat tinggi terhadap perusahaan teknologi terbesar di dunia itu.
Kinerja korporasi tersebut diproyeksikan menjadi indikator penting bagi kelanjutan tren penguatan pasar modal dalam beberapa waktu terakhir. Sentimen ini menjadi perhatian serius bagi manajemen investasi global dalam mengukur arah pergerakan modal ke depan.
"Kenaikan pasar dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar didorong tema AI dan Nvidia menjadi simbol utama dari tren tersebut," ujar Chief Investment Officer Questar Capital Partners, Richard Reyle.
Beralih ke pasar obligasi, penurunan harga minyak mentah berhasil meredakan aksi jual global yang dipicu oleh kecemasan lonjakan inflasi akibat konflik Iran. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,5974%, yield tenor dua tahun turun ke 4,0564%, dan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ikut bergerak turun di seluruh tenor.
Sementara itu, pertemuan menteri keuangan negara G7 di Paris menempatkan perhatian utama pada isu lonjakan utang publik serta volatilitas pasar obligasi. Para pelaku pasar juga mulai mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga bank sentral global tahun ini akibat risiko inflasi yang dipicu mahalnya harga energi.
Pada pasar valuta asing, dolar AS mendapat sentimen positif sebagai aset aman dengan kenaikan 0,1% ke level 159 yen, memicu kewaspadaan intervensi dari pemerintah Jepang. Mata uang euro juga melemah 0,1% menjadi US$ 1,1643, poundsterling Inggris turun 0,1% ke US$ 1,3419, serta harga emas spot turun tipis ke US$ 4.562,50 per ons troi akibat tekanan yield obligasi.