Harga minyak dunia mengalami pelemahan pada akhir perdagangan Selasa (21/4/2026) waktu setempat atau Rabu (22/4/2026) pagi WIB. Kondisi ini berbanding terbalik dengan penguatan signifikan yang terjadi pada hari sebelumnya.
Penurunan nilai komoditas ini didorong oleh munculnya harapan baru terkait perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dialog tersebut diharapkan segera terlaksana demi memulihkan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Money, harga minyak mentah Brent merosot 95 sen atau setara 1 persen ke angka 94,53 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak Mei turun 1,54 dollar AS ke level 88,07 dollar AS per barrel.
Untuk kontrak Juni yang lebih aktif, harga tercatat turun 1,09 dollar AS atau 1,3 persen menjadi 86,37 dollar AS per barrel. Koreksi ini terjadi setelah Brent sempat melonjak 5,6 persen dan WTI melambung 6,9 persen pada sesi sebelumnya.
Lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh aksi Iran yang menutup kembali Selat Hormuz. Selain itu, penyitaan kapal kargo Iran oleh AS sebagai bentuk blokade pelabuhan turut memanaskan situasi pasar energi global.
Analis Citi mengungkapkan bahwa pasar saat ini sedang memantau peluang perpanjangan gencatan senjata atau kesepakatan diplomatik yang lebih luas. Namun, risiko tetap mengintai jika proses negosiasi menemui jalan buntu.
"Kami masih cenderung melihat adanya penandatanganan nota kesepahaman dan/atau perpanjangan gencatan senjata pekan ini, yang berpotensi berkembang menjadi kesepakatan yang lebih luas," tulis analis Citi.
"Namun demikian, kami tetap bersiap untuk beralih ke skenario gangguan yang lebih berkepanjangan jika negosiasi pekan ini gagal," tambahnya.
Seorang pejabat senior Iran menyatakan negaranya tengah mempertimbangkan partisipasi dalam pembicaraan damai di Pakistan. Langkah ini sejalan dengan upaya Islamabad untuk mengakhiri blokade yang dilakukan Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyoroti pelanggaran gencatan senjata oleh pihak AS sebagai kendala utama. Ia menegaskan posisi negaranya dalam menghadapi tekanan diplomatik tersebut.
"Iran tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman," ujarnya.
Hingga saat ini, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Jalur vital ini sangat krusial karena mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia ke pasar global.
Citi memproyeksikan bahwa gangguan di selat tersebut selama satu bulan dapat menyebabkan kehilangan pasokan hingga 1,3 miliar barrel. Dampaknya, harga minyak berpotensi menyentuh 110 dollar AS per barrel pada kuartal II 2026.
Di sisi lain, Kuwait dilaporkan telah menetapkan status force majeure untuk pengiriman minyaknya akibat blokade tersebut. Kenaikan harga yang terjadi mulai berdampak pada penurunan permintaan minyak global sebesar 3 persen menurut analisis Societe Generale.
Analis Citi memperingatkan adanya risiko kerugian yang lebih besar jika normalisasi pasokan terus tertunda. Pemulihan penuh pasokan energi diperkirakan baru akan tercapai secara total pada akhir tahun 2026.