Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Senin (18/5/2026). Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat memanasnya konflik di Iran.
Seperti dikutip dari Reuters melalui Investor Daily, minyak Brent untuk pengiriman Juli mengalami kenaikan sebesar US$ 2,84 atau sekitar 2,6 persen, kemudian ditutup pada level US$ 112,10 per barel. Nilai tersebut menjadi harga penutupan tertinggi bagi Brent sejak 4 Mei.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni menguat sebesar US$ 3,24 atau 3,1 persen menjadi US$ 108,66 per barel. Angka penutupan ini menjadi yang tertinggi untuk jenis WTI sejak 7 April.
Pergerakan komoditas energi ini berlangsung sangat volatil menjelang berakhirnya kontrak WTI Juni pada hari Selasa. Dalam sesi perdagangan Senin, harga WTI bahkan sempat melonjak lebih dari US$ 4 per barel sebelum akhirnya berbalik turun lebih dari US$ 2.
Kekhawatiran pasar global terutama bersumber dari ancaman tersumbatnya jalur pasokan di Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur vital perdagangan energi yang dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyatakan bahwa persediaan minyak komersial global terus menyusut dengan cepat. Hal ini terjadi sebagai dampak dari konflik yang sedang berlangsung serta penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut Birol, langkah pelepasan cadangan strategis memang telah menambah pasokan sekitar 2,5 juta barel per hari ke pasar global. Namun, dia menegaskan bahwa cadangan tersebut tidak akan mencukupi untuk menopang kebutuhan dalam jangka panjang.
Di tengah situasi tersebut, sentimen pasar sempat sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan menunda rencana serangan terhadap Iran yang awalnya dijadwalkan pada hari Selasa. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, juga melaporkan bahwa AS mulai membuka peluang untuk mencabut sanksi minyak Iran selama proses negosiasi berlangsung.
Pakistan yang bertindak sebagai mediator perdamaian dikabarkan telah menyampaikan proposal terbaru dari Iran kepada AS. Meskipun proses gencatan senjata saat ini masih dinilai sangat rapuh, negosiasi antara kedua negara tersebut belum menunjukkan kemajuan yang berarti.
Terkait kondisi ini, Donald Trump sempat menyebut situasi gencatan senjata yang ada sekarang sedang bertahan di ujung tanduk.
Lembaga analisis Capital Economics memperingatkan dampak buruk jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka dalam beberapa pekan ke depan. Ekonomi global diprediksi menghadapi risiko perlambatan yang lebih dalam disertai dengan lonjakan inflasi.
Capital Economics memperkirakan tingkat inflasi di Inggris dan zona euro berpotensi menyentuh angka 5 hingga 6 persen. Akibatnya, bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, memiliki potensi besar untuk kembali menaikkan suku bunga acuan mereka.
Dampak tingginya biaya energi juga mulai terlihat pada perlambatan ekonomi di China. Data resmi pemerintah menunjukkan output industri dan penjualan ritel di negara tersebut melemah pada bulan April akibat tingginya harga energi serta lemahnya permintaan domestik.
Kondisi ekonomi ini berimbas pada tingkat pengolahan minyak mentah di China yang merosot ke level terendah sejak Agustus 2022. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya aktivitas kilang di negara yang berstatus sebagai konsumen minyak terbesar kedua di dunia tersebut.