Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Penutupan Selat Hormuz

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Penutupan Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Penutupan Selat Hormuz.

Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan hampir 3 persen pada penutupan perdagangan Selasa (28/4/2026) waktu setempat akibat kekhawatiran atas terganggunya pasokan energi global. Kenaikan ini dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz yang menghambat jalur distribusi minyak dan gas bumi internasional.

Dilansir dari Money, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Juni tercatat naik 3,03 dollar AS atau 2,8 persen menjadi 111,26 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni meningkat 3,56 dollar AS atau 3,7 persen ke level 99,93 dollar AS per barrel.

Penguatan harga Brent telah terjadi selama tujuh hari berturut-turut meskipun terdapat sentimen dari Uni Emirat Arab (UEA) yang memutuskan keluar dari OPEC+ per 1 Mei 2026. Pasar justru lebih fokus pada krisis di Selat Hormuz yang dianggap memberikan dampak gangguan pasokan lebih besar dibandingkan potensi tambahan produksi dari UEA.

Mitra Again Capital, John Kilduff, memberikan pandangan mengenai dampak keluarnya UEA dari aliansi produsen minyak tersebut di tengah situasi krisis saat ini.

"Dalam situasi normal, ini akan menjadi kabar yang sangat bearish bagi pasar minyak dan memicu aksi jual besar-besaran," ujar John Kilduff, Mitra Again Capital.

Kilduff menilai UEA sebenarnya memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi harian secara signifikan antara 1 juta hingga 1,5 juta barrel. Namun, hambatan pada jalur pelayaran utama membuat pasokan tersebut sulit mencapai pasar global.

"Namun dengan Selat Hormuz yang secara efektif tertutup, pasokan tambahan itu tidak punya jalur distribusi. Karena itu, harga minyak kemungkinan akan terus merangkak naik secara perlahan," kata John Kilduff.

Ketegangan geopolitik semakin meruncing setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran karena dianggap tidak menyentuh persoalan program nuklir. Kondisi ini membuat Selat Hormuz, yang dilalui 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia, tetap berada dalam posisi terganggu.

Analis Rystad Energy, Jorge Leon, menyoroti kebuntuan perundingan yang memaksa para pelaku pasar untuk bersiap menghadapi dampak jangka panjang.

"Dengan perundingan damai yang mandek dan belum ada jalur jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz, para trader mulai memperhitungkan gangguan berkepanjangan pada salah satu jalur pasokan energi paling krusial di dunia," ujar Jorge Leon, Analis Rystad Energy.

Data pelacakan kapal menunjukkan blokade AS menyebabkan enam tanker minyak Iran berbalik arah, meskipun kapal tanker Idemitsu Maru dan kapal LNG kelolaan ADNOC berhasil melintas pada Selasa kemarin. Kapal ADNOC tersebut menjadi pengangkut LNG bermuatan pertama yang melewati selat sejak konflik Iran pecah pada 28 Februari 2026.

Berdasarkan data Vortexa, volume minyak yang tertahan di tanker selama minimal tujuh hari meningkat 25 persen menjadi 153,11 juta barrel per 24 April 2026. Bank Dunia memproyeksikan harga energi global dapat melonjak hingga 24 persen sepanjang tahun ini jika gangguan di Timur Tengah terus berlanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi