Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan tajam lebih dari 6 persen pada penutupan perdagangan Rabu (29/4) setelah proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar global terhadap terhambatnya arus pasokan energi melalui Selat Hormuz dalam jangka panjang.
Lonjakan signifikan ini terpantau pada minyak mentah Brent yang menjadi acuan global dengan kenaikan sekitar 6 persen ke level US$ 118,03 per barel. Data yang dilansir dari Detik Finance melalui CNBC menunjukkan bahwa tren serupa juga terjadi pada komoditas minyak mentah Amerika Serikat.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat menguat hampir 7 persen dan berakhir pada posisi US$ 106,88 per barel. Kenaikan harga pada pertengahan pekan tersebut mempertegas reli penguatan nilai komoditas energi yang sudah berlangsung selama sepekan terakhir.
Kemacetan diplomasi dipicu oleh penolakan Iran untuk mengoperasikan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat menghapus kebijakan blokade. Di sisi lain, Pemerintah Amerika Serikat menegaskan tetap akan menyiagakan kekuatan angkatan laut mereka di wilayah tersebut.
"Blokade ini agak lebih efektif daripada pengeboman. Mereka tercekik seperti babi yang dijejali, dan keadaan akan lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir," kata Donald Trump, Presiden AS.
Pernyataan keras pemimpin Amerika Serikat tersebut semakin memupus harapan para investor akan adanya resolusi damai dalam waktu dekat. Selain faktor ketegangan politik, pasar energi juga sedang menyoroti dinamika organisasi negara pengekspor minyak setelah Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC secara tiba-tiba.
"Keluarnya UEA dari kelompok produsen minyak tersebut merupakan pukulan besar bagi OPEC dan pasti akan disambut baik oleh Trump, karena hal itu mengikis pengaruh OPEC di pasar minyak, sementara itu juga akan bermanfaat bagi importir dan konsumen. Namun, dalam jangka pendek, pendorong terbesar harga minyak tetaplah perkembangan di Teluk Persia dan waktu dimulainya kembali aliran minyak melalui Selat Hormuz," jelas analis di bank asal Belanda, ING.
Lembaga keuangan tersebut menilai meski langkah Uni Emirat Arab berdampak signifikan bagi internal organisasi, fokus utama pasar tetap tertuju pada stabilitas di Teluk Persia. Ketidakpastian waktu normalisasi distribusi minyak mentah menjadi variabel utama yang terus mendorong volatilitas harga di pasar internasional.