Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Larangan Ekspor Uranium Iran

Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Larangan Ekspor Uranium Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Larangan Ekspor Uranium Iran.

Harga minyak dunia mengalami lonjakan sebesar 1,9 persen menyusul langkah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang mengumumkan penghentian ekspor uranium negaranya. Gejolak ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global, seperti dilansir dari Money.

Pada awal perdagangan di Asia hari Jumat (22/5/2026), kontrak berjangka Juli untuk pasokan internasional minyak mentah Brent terkerek naik 1,9 persen menjadi 104,52 dollar AS atau sekitar Rp 1,8 juta per barrel.

Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Juni turut merangkak naik 1,5 persen hingga menyentuh angka 97,81 dollar AS atau setara Rp 1,7 juta per barrel.

Pemerintah Teheran tetap bersikeras melanjutkan program pengayaan uranium mereka. Langkah ini sekaligus membantah klaim Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa proses negosiasi telah memasuki tahapan akhir.

Menanggapi situasi tersebut, Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz tanpa syarat menjadi satu-satunya solusi guna mengatasi guncangan energi akibat ketegangan di Timur Tengah.

"Para eksekutif energi memperingatkan bahwa normalisasi penuh pasokan minyak Timur Tengah mungkin tidak akan terjadi hingga tahun 2027 karena skala gangguan yang disebabkan oleh konflik," kata dia dikutip dari Reuters.

Kondisi konflik yang terus berlanjut diprediksi akan memberikan dampak paling parah bagi negara-negara di kawasan Asia dan Afrika. Wilayah-wilayah tersebut kini menghadapi ancaman krisis energi serius yang berisiko melumpuhkan stabilitas perekonomian mereka.

Guna mengantisipasi hambatan distribusi di Selat Hormuz, otoritas Uni Emirat Arab kini tengah mempercepat pembangunan jalur pipa darat baru. Infrastruktur ini dirancang sebagai jalur alternatif pengiriman pasokan minyak selain melalui jalur perairan.

Langkah taktis tersebut diproyeksikan mampu menghindarkan dunia dari ancaman krisis energi yang lebih masif, bahkan jika Selat Hormuz tetap berada dalam kondisi tertutup.

ÔÇ£Saat ini, banyak energi dunia masih mengalir melalui sedikit titik hambatan," jelas CEO Abu Dhabi National Oil Co, Sultan Ahmed Al Jaber, dikutip dari Atlantic Council.

Keberadaan jalur pipa baru ini nantinya akan melipatgandakan kapasitas ekspor ADNOC melalui pelabuhan Fujairah yang berlokasi di Teluk Oman, tepat di sisi luar Selat Hormuz.

Proyek infrastruktur tersebut sengaja dikebut oleh UEA seiring dengan eskalasi ketegangan dengan Iran. Target operasional perdana untuk jalur pipa darat ini dijadwalkan mulai berjalan pada tahun 2027.

Apabila Selat Hormuz pada akhirnya kembali dibuka, proses pemulihan distribusi minyak global diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar empat bulan agar dapat kembali berjalan normal.

"Ini bukan hanya masalah ekonomi. Bahkan, ini menciptakan preseden berbahaya begitu Anda menerima bahwa satu negara dapat menyandera jalur perairan terpenting di dunia," katanya.

Sebagai informasi tambahan, kawasan Selat Hormuz memegang peranan sangat vital bagi ketahanan energi global karena menjadi rute pelayaran bagi 100 juta barrel minyak dalam setiap minggunya.

Artikel terkait

Rekomendasi