Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan pada Senin (11/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menolak proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri ketegangan di Timur Tengah. Penolakan ini memperparah gangguan distribusi energi global di tengah penutupan akses Selat Hormuz yang masih berlangsung.
Kenaikan nilai komoditas energi ini tercatat cukup tajam di pasar internasional. Dilansir dari Money, harga minyak Brent dilaporkan melonjak hingga 4,2 persen ke angka 105,54 dollar AS per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kini menembus level 99 dollar AS per barel.
Presiden Trump memberikan respons tegas terhadap tawaran diplomatik yang diajukan oleh pihak Teheran. Melalui unggahan di media sosial, pemimpin Amerika Serikat tersebut menyatakan keberatannya atas poin-poin yang diajukan dalam draf perdamaian tersebut.
"totally unacceptable" kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Penolakan ini memicu kekhawatiran baru di pasar global terkait kelangsungan gencatan senjata yang sebelumnya dinilai sangat rapuh. Kondisi tersebut semakin krusial mengingat Selat Hormuz telah tertutup hampir total sejak pecahnya konflik pada akhir Februari 2026.
Sektor komoditas global mulai merasakan dampak dari ketidakpastian politik antara kedua negara. Head of Commodities Strategy ING Groep NV Warren Patterson memberikan catatan mengenai pudarnya harapan pasar terhadap penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
"Optimisme terhadap kesepakatan segera antara AS dan Iran memudar, sehingga mendorong harga minyak naik," kata Patterson, Head of Commodities Strategy ING Groep NV.
Patterson juga memperingatkan bahwa eskalasi konflik di wilayah tersebut berpotensi terbuka lebar. Hal ini memungkinkan terjadinya tren kenaikan harga komoditas energi yang lebih tinggi pada masa mendatang.
Laporan dari Wall Street Journal mengungkapkan detail proposal yang ditolak, di mana Iran bersedia memindahkan sebagian uranium mereka ke negara ketiga namun enggan membongkar fasilitas nuklir. Meski demikian, pihak Iran segera mengeluarkan bantahan resmi melalui kantor berita Tasnim.
Situasi lapangan tetap mencekam dengan munculnya laporan serangan drone pada Minggu (10/5/2026) yang membakar kapal kargo di dekat Qatar. CEO Saudi Aramco Amin Nasser memprediksi bahwa pemulihan pasar energi baru akan terjadi pada tahun depan jika gangguan ini terus berlanjut.
"Pasar energi global baru bisa kembali normal pada 2027 apabila gangguan pelayaran di Selat Hormuz berlangsung lebih dari beberapa pekan ke depan," kata Nasser, Chief Executive Officer Saudi Aramco.
Sebagai langkah mitigasi, Saudi Aramco mulai mengalihkan sebagian jalur distribusi minyak ke pelabuhan Yanbu di pesisir barat. Meskipun volume pengiriman masih di bawah level normal, Qatar dilaporkan berhasil mengirim satu kargo gas alam cair (LNG) untuk pertama kalinya sejak perang dimulai.
Ketegangan diplomatik juga disuarakan oleh otoritas Israel yang menilai ancaman nuklir Iran masih nyata. Dalam wawancara bersama program CBS 60 Minutes, pemimpin Israel menekankan pentingnya melanjutkan operasi militer untuk melumpuhkan kemampuan nuklir lawan.
"belum berakhir" kata Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Netanyahu menegaskan bahwa penghancuran cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran tetap menjadi agenda utama negaranya. Di sisi lain, Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini untuk membahas tekanan ekonomi terhadap Teheran.