Harga minyak mentah global mengalami lonjakan signifikan pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026) setelah prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran meredup. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Money, harga minyak mentah Brent mencatat kenaikan sebesar 3,56 dollar AS atau 3,42 persen ke level 107,77 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,11 dollar AS atau 4,19 persen menjadi 102,18 dollar AS per barrel.
Ketidakpastian ini diperparah oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kebuntuan negosiasi gencatan senjata. Ia menyebutkan adanya perbedaan syarat yang tajam antara kedua belah pihak terkait penghentian konflik tersebut.
"Pasar mulai meragukan bahwa kesepakatan damai bisa segera tercapai," kata analis StoneX Alex Hodes.
Badan Informasi Energi AS (EIA) memproyeksikan penutupan jalur strategis Selat Hormuz akan berlangsung hingga akhir Mei 2026. Analis melihat hal ini akan menghambat distribusi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia secara global.
Kepala global minyak dan gas Houlihan Lokey, J.P. Hanson, menilai defisit pasokan saat ini jauh lebih besar dari perkiraan awal. Situasi diperburuk oleh keterbatasan kapasitas cadangan strategis negara-negara konsumen minyak utama.
"Pasar kini menghadapi defisit gabungan hingga miliaran barrel minyak, diperparah oleh cadangan strategis yang terkuras dan kapasitas pengganti yang terbatas," ujarnya.
Pimpinan perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco, Amin Nasser, turut memberikan peringatan keras. Ia menyoroti besarnya volume minyak yang hilang setiap pekannya akibat konflik yang belum mereda di jalur laut internasional tersebut.
"Pasokan minyak global terus mengetat setiap hari karena kehilangan suplai jauh lebih besar dibanding penurunan permintaan akibat kenaikan harga," kata firma konsultan perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.
Data EIA menunjukkan persediaan minyak global diperkirakan merosot hingga 2,6 juta barrel per hari pada tahun ini. Para pelaku pasar kini menunggu hasil pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan pada Kamis dan Jumat pekan ini.