Eskalasi militer antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA) memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga sekitar 6 persen pada Selasa, 5 Mei 2026. Ketegangan meningkat setelah Teheran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dan pelabuhan minyak di kawasan Teluk.
Kenaikan signifikan ini dilaporkan oleh Suara setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berlaku sejak April lalu berakhir dengan bentrokan bersenjata. Pasar energi bereaksi cepat terhadap risiko terhentinya jalur distribusi utama di Selat Hormuz.
Data perdagangan menunjukkan minyak mentah berjangka Brent melonjak sebesar 6,27 dolar AS atau 5,8 persen hingga menyentuh level 114,44 dolar AS per barel. Pada saat yang sama, West Texas Intermediate (WTI) naik 4,48 dolar AS atau 4,4 persen menjadi 106,42 dolar AS per barel.
Kondisi di lapangan memburuk saat salah satu pelabuhan minyak utama di UEA terbakar akibat serangan drone. Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa unit pertahanan udara telah berupaya menghalau serangan rudal yang diduga berasal dari wilayah Iran sejak Senin malam.
Militer Amerika Serikat turut terlibat dalam konfrontasi ini dengan mengeklaim telah menghancurkan enam kapal kecil milik Iran. Langkah tersebut diambil guna mengamankan misi Angkatan Laut AS dalam membuka kembali jalur pelayaran yang coba ditutup oleh pihak Teheran.
Analis dari konsultan Eurasia Group memberikan peringatan keras mengenai potensi kelanjutan krisis ini jika kesepakatan diplomatik tidak segera tercapai. Pihaknya memprediksi tekanan ekonomi akan semakin membebani konsumen global dalam waktu dekat.
"Harga minyak akan tetap berada di atas $100 dan harga bensin di AS akan mencapai $5 per galon pada Juni mendatang tanpa adanya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz," tulis analis Eurasia Group.
Selain serangan terhadap infrastruktur darat, Iran juga diduga melakukan sabotase terhadap empat kapal komersial di wilayah Teluk dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Laporan dari Kementerian Luar Luar Negeri di Seoul mengonfirmasi adanya ledakan pada kapal yang dioperasikan perusahaan Korea Selatan, HMM.
Pemerintah UEA melalui Menteri Energi menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasar meskipun kondisi keamanan sedang tidak menentu. Pernyataan ini muncul hanya sepekan setelah negara tersebut memutuskan keluar dari keanggotaan OPEC.
Di sisi lain, aliansi OPEC+ telah menyepakati penambahan target produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk bulan Juni bagi tujuh negara anggotanya. Namun, para pelaku pasar tetap pesimistis tambahan produksi tersebut mampu meredam harga selama blokade militer di Selat Hormuz masih berlangsung.