Nilai jual kendaraan Isuzu Panther di pasar mobil bekas terpantau tetap stabil dan cenderung merangkak naik di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non-subsidi pada Mei 2026. Meski produksinya telah dihentikan sejak 2020, mobil ini tetap diminati karena karakteristik mesinnya yang dinilai lebih toleran terhadap penggunaan biodiesel.
Kenaikan harga solar nonsubsidi saat ini cukup signifikan dengan Dexlite mencapai Rp 26.000 per liter dan Pertamina Dex menyentuh Rp 27.900 per liter, sebagaimana dilansir dari Otomotif. Di stasiun pengisian bahan bakar swasta seperti BP AKR, harga solar bahkan tercatat berada di angka Rp 30.890 per liter.
Fenomena ini menempatkan Isuzu Panther sebagai opsi bagi konsumen yang mencari efisiensi biaya bahan bakar melalui penggunaan solar subsidi. Rama dari Rama Dagang Mobil menjelaskan bahwa konsumen yang memilih kendaraan diesel modern biasanya sudah siap dengan risiko biaya operasional tinggi.
"Kalau (Phanter) naik atau enggak, belum bisa bilang ya. Penggemarnya memang ada," kata Rama, Senin (4/5/2026).
Penjual mobil bekas ini menambahkan bahwa ketersediaan unit Panther di wilayah Jakarta dan sekitarnya kini semakin sulit ditemukan. Hal ini dipicu oleh banyaknya unit yang telah berpindah tangan ke konsumen di berbagai daerah luar ibu kota.
"Barangnya sudah tidak ada, yang jual sudah jarang dan yang mencari juga sudah tidak ada. Isuzu. Jarang sudah," kata Rama.
Berdasarkan data pasar, Panther Grand Touring tahun 2017 masih dibanderol sekitar Rp 230 jutaan, sementara keluaran 2019 menembus Rp 249 jutaan. Untuk model yang lebih tua, varian LS tahun 2005 dipasarkan di angka Rp 115 jutaan dan model tahun 1997 mulai dari Rp 62 jutaan.
Kenaikan harga yang dinilai cukup tinggi ini mendapat perhatian dari pelaku usaha showroom lainnya. Andi dari showroom Jordy Mobil berpendapat bahwa secara posisi pasar, harga Panther idealnya tetap berada di bawah level mobil diesel modern.
"Saya sebetulnya kurang paham harga Panther. Tapi harusnya (harganya) di bawah Innova Diesel. Dia tetap kalah," ujarnya.
Andi menduga adanya ketidakwajaran harga jika nilai jual Panther disetarakan dengan mobil diesel generasi terbaru. Ia melihat adanya faktor spekulasi pasar yang membuat harga mobil legendaris tersebut tetap melambung tinggi di tengah kondisi ekonomi saat ini.
"Kalau kondisi biasa sih mahal. Mungkin kalau saya bilang lagi digoreng. Tapi untuk saya, saya rasa kalau saya pribadi lebih milih Innova Diesel kalau harganya sama," kata Andi.