Harga emas dunia mengalami pelemahan pada perdagangan awal Asia, Senin (11/5/2026), akibat menipisnya peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan kekhawatiran terhadap inflasi tinggi yang berkepanjangan.
Data pasar yang dilansir dari Money menunjukkan harga emas spot terkontraksi 0,6 persen menjadi 4.684,32 dollar AS per ons. Penurunan lebih tajam terjadi pada emas berjangka AS untuk pengiriman Juni yang merosot 0,8 persen ke posisi 4.692,70 dollar AS per ons.
Kondisi pasar kian tertekan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penolakan terhadap respons Iran atas proposal perdamaian pada Minggu (10/5/2026). Penolakan ini mengandaskan harapan berakhirnya konflik sepuluh pekan yang telah mengganggu lalu lintas Selat Hormuz.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer menjelaskan bahwa pelaku pasar mulai merevisi proyeksi mereka terhadap stabilitas geopolitik. Faktor ini secara langsung memengaruhi pergerakan aset komoditas global termasuk logam mulia.
"Pada dasarnya kita melihat memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat, dan emas ikut tertekan akibat kembali naiknya harga minyak mentah," ujar Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade.
Lonjakan harga minyak mentah global yang melebihi 3 persen pada Senin pagi menambah risiko kenaikan inflasi. Hal tersebut memperkuat potensi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Meskipun emas secara tradisional berfungsi sebagai aset lindung nilai, tingginya suku bunga mengurangi daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil. Tekanan tambahan juga datang dari penguatan dollar AS yang membuat emas lebih mahal bagi investor bermata uang asing.
Tim Waterer memprediksi nilai logam mulia ini akan tetap bertahan pada kisaran harga yang cukup tinggi di tengah ketidakpastian proses gencatan senjata. Belum adanya kesepakatan definitif menjadi faktor penentu utama pergerakan harga ke depan.
"Dalam jangka pendek hingga menengah, kisaran harga 4.400 dollar AS hingga 4.800 dollar AS masih tampak kuat selama kita berada dalam situasi gencatan senjata tanpa kesepakatan damai,ÔÇØ kata Tim Waterer.
Laporan semi-tahunan Federal Reserve pada Jumat sebelumnya telah menempatkan gejolak harga minyak dan perang Iran sebagai risiko utama stabilitas keuangan. Kini, fokus pelaku pasar tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS periode April 2026.
Di sisi lain, sektor hulu juga menghadapi tantangan setelah Asosiasi Emas China mencatat penurunan produksi pada kuartal I-2026. Penurunan ini disebabkan oleh penghentian operasional sejumlah fasilitas peleburan guna menjalani inspeksi keselamatan dan perawatan rutin.