Harga Emas Dunia Turun Akibat Lonjakan Inflasi Amerika Serikat

Harga Emas Dunia Turun Akibat Lonjakan Inflasi Amerika Serikat
Foto: Ilustrasi Harga Emas Dunia Turun Akibat Lonjakan Inflasi Amerika Serikat.

Nilai emas dunia mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut pada perdagangan Rabu (13/5/2026) akibat kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi Amerika Serikat yang dipicu konflik di Iran. Kondisi ini menyebabkan ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan pemangkasan suku bunga The Fed semakin menipis.

Berdasarkan data yang dilansir dari Investor Daily, harga emas di pasar spot ditutup merosot 0,57 persen pada level US$ 4.688,68 per ons troi. Di sisi lain, kontrak berjangka emas Amerika Serikat justru mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,22 persen menuju posisi US$ 4.697,1 per ons troi.

Tekanan terhadap logam mulia diperkuat oleh data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat bulan April yang mencatatkan kenaikan tertinggi sejak awal 2022. Selain itu, inflasi tahunan konsumen di negara tersebut juga mengalami lonjakan terbesar dalam tiga tahun terakhir, sehingga memperkuat sinyal bertahannya suku bunga tinggi.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, memberikan analisis terkait kondisi pasar yang cenderung menekan aset tanpa imbal hasil tersebut. Penegasan ini muncul seiring dengan rilis data ekonomi terbaru yang menunjukkan inflasi masih sulit diredam.

"Inflasi masih cukup lengket sehingga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama semakin kuat. Itu yang menekan harga emas dalam dua hari terakhir," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals.

Grant menambahkan bahwa kebijakan moneter yang ketat di masa mendatang akan berdampak pada permintaan fisik logam mulia. Hal ini berkaitan dengan langkah strategis beberapa negara konsumen besar yang turut mengubah kebijakan perdagangan mereka.

"Inflasi masih cukup lengket sehingga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama semakin kuat. Itu yang menekan harga emas dalam dua hari terakhir," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals.

Faktor lain yang membebani harga adalah kebijakan India sebagai konsumen emas terbesar kedua dunia yang menaikkan tarif impor logam mulia menjadi 15 persen. Selain memantau kebijakan domestik, pelaku pasar kini mencermati pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk menentukan arah hubungan dagang global.

Artikel terkait

Rekomendasi