Harga Emas Dunia Tembus Rekor US$5.042 per Ons 26 Januari 2026

Harga Emas Dunia Tembus Rekor US$5.042 per Ons 26 Januari 2026
Foto: Ilustrasi Harga Emas Dunia Tembus Rekor US$5.042 per Ons 26 Januari 2026.

Harga emas dunia berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus level psikologis baru di atas US$5.000 per ons. Dilansir dari Investortrust, lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya risiko fiskal dan ketegangan geopolitik global yang kian memanas.

Pada perdagangan Senin (26/1/2026), harga emas spot tercatat menguat 1,2% ke posisi US$5.042 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari juga mengalami kenaikan serupa di level US$5.036 per ons.

Sentimen utama yang mendorong reli panjang ini adalah munculnya titik panas geopolitik baru di sejumlah wilayah, mulai dari Greenland, Venezuela, hingga Timur Tengah. Kondisi ini memperkuat posisi logam mulia sebagai aset lindung nilai utama bagi para investor dunia.

Laporan dari HSBC menyebutkan bahwa isu geoekonomi yang berkaitan dengan Greenland menjadi pemicu terbaru kenaikan harga emas dan perak. Analis di Union Bancaire Priv├®e (UBP) juga melihat adanya dukungan kuat dari sisi permintaan investasi.

"Kami memperkirakan emas akan menikmati satu tahun yang kuat lagi, mencerminkan permintaan investasi yang berkelanjutan dari bank sentral dan investor ritel, dengan target harga akhir tahun di level US$5.200 per ons," sebut UBP.

Goldman Sachs mencatat adanya pergeseran basis permintaan yang kini meluas ke saluran non-tradisional. Kepemilikan ETF emas di negara-negara Barat dilaporkan melonjak sekitar 500 ton sejak awal tahun 2025.

Revisi Target Harga Emas 2026

Selain instrumen konvensional, instrumen baru untuk melindungi risiko makro kini semakin diminati, termasuk aksi beli fisik oleh keluarga kaya. Goldman Sachs secara resmi menaikkan proyeksi harga emas untuk Desember 2026 menjadi US$5.400 per ons dari perkiraan sebelumnya di angka US$4.900.

Lembaga tersebut menilai bahwa lindung nilai terhadap risiko kebijakan global telah menjadi faktor yang melekat kuat di pasar. Berbeda dengan volatilitas akibat pemilu AS tahun 2024 yang cepat mereda, risiko fiskal saat ini diprediksi bertahan lebih lama.

"Kami berasumsi bahwa lindung nilai terhadap risiko kebijakan makro global tetap stabil karena risiko yang dipersepsikan ini (misalnya keberlanjutan fiskal) mungkin tidak sepenuhnya terselesaikan pada 2026," beber Goldman Sachs.

Bank sentral negara-negara berkembang juga terus memperkuat cadangan devisa mereka melalui emas. Pembelian oleh otoritas moneter kini mencapai rata-rata 60 ton per bulan, melonjak signifikan dibandingkan rata-rata sebelum tahun 2022 yang hanya sebesar 17 ton.

Artikel terkait

Rekomendasi