Nilai tukar emas internasional mengalami penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (30/4/2026) setelah sebelumnya sempat merosot ke titik terendah dalam satu bulan terakhir. Berdasarkan data pasar spot, komoditas logam mulia ini mencatatkan kenaikan sebesar 0,6 persen menjadi 4.566,73 dollar AS per ons pada pukul 01.05 GMT.
Kenaikan harga ini terjadi bersamaan dengan melemahnya mata uang dollar AS yang berdampak pada turunnya biaya akuisisi emas bagi pemilik mata uang asing. Sebagaimana dilansir dari Money, kondisi tersebut memicu lonjakan permintaan dari para investor global yang memanfaatkan momentum koreksi harga beberapa hari sebelumnya.
Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 0,4 persen yang menempatkan harganya pada posisi 4.578,50 dollar AS per ons. Selain aksi beli investor, pergerakan ini dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga bank sentral AS yang tetap dipertahankan meski terdapat perbedaan pandangan internal mengenai tekanan inflasi.
Laju inflasi global saat ini kian terbebani oleh tingginya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik dan kebuntuan negosiasi antara AS dengan Iran. Tercatat harga minyak Brent bertahan di atas level 119 dollar AS per barrel yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan prospek suku bunga tinggi yang lebih lama.
Data dari World Gold Council memperlihatkan adanya penguatan fundamental melalui peningkatan permintaan emas global sebesar 2 persen secara tahunan menjadi 1.230,9 metrik ton pada kuartal I-2026. Pertumbuhan ini didorong oleh akumulasi cadangan devisa oleh bank sentral sebesar 3 persen serta pembelian emas batangan dan koin oleh masyarakat.
Tren positif ini merambah ke komoditas logam mulia lainnya di pasar global pada periode yang sama. Harga perak terpantau meningkat hingga menyentuh level 72 dollar AS per ons, yang kemudian diikuti oleh kenaikan nilai pasar pada platinum serta palladium sesuai pergerakan positif sektor komoditas.