Harga Emas Dunia Anjlok Dipicu Eskalasi Konflik Timur Tengah

Harga Emas Dunia Anjlok Dipicu Eskalasi Konflik Timur Tengah
Foto: Ilustrasi Harga Emas Dunia Anjlok Dipicu Eskalasi Konflik Timur Tengah.

Nilai emas di pasar global mengalami penurunan signifikan pada pembukaan perdagangan Senin (20/4/2026) pagi setelah ketegangan militer kembali meningkat di kawasan Timur Tengah. Dilansir dari Money, harga emas di pasar spot merosot sekitar 1,9 persen hingga menyentuh angka 4.740 dollar AS per troy ons.

Koreksi tajam ini terjadi pasca insiden penembakan kapal kargo di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas distribusi energi internasional. Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan melakukan penyitaan terhadap kapal berbendera Iran, sementara Teheran mengeluarkan peringatan keras bagi pelayaran di wilayah tersebut.

Situasi ini memaksa sejumlah operator kapal membatalkan jadwal pelayaran mereka. Meskipun Iran sempat menyatakan Selat Hormuz terbuka, posisi tersebut berubah setelah adanya penegasan bahwa blokade kembali dilakukan akibat konflik yang sedang berlangsung dengan Israel di Lebanon.

Juru Bicara Kepresidenan Iran, Mehdi Tabatabaei, memberikan pernyataan mengenai alasan di balik langkah penutupan jalur strategis tersebut yang berdampak pada pasar keuangan. Penutupan dilakukan sebagai respons atas kondisi keamanan yang dinilai melanggar komitmen internasional.

Analis Capital.com, Kyle Rodda, mengamati bahwa dinamika pasar saat ini sangat bergantung pada sentimen keamanan yang memicu aksi jual aset aman oleh para investor.

"Transaksi berbasis sentimen perang kembali terjadi, dan itu berarti emas sedang dilepas," ujar Kyle Rodda, Analis Capital.com.

Rodda menambahkan bahwa pergerakan harga di pasar diprediksi akan mengalami volatilitas dua arah yang sangat tinggi dalam waktu dekat seiring dengan perkembangan berita terbaru dari zona konflik.

"Pergerakan pasar sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita, sehingga berpotensi mengalami volatilitas dua arah yang tinggi dalam waktu singkat," kata Kyle Rodda, Analis Capital.com.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent justru melonjak sebesar 6,8 persen ke posisi 96 dollar AS per barel. Kenaikan harga energi ini memperkuat kekhawatiran mengenai inflasi global yang dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi.

Emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang kompetitif saat suku bunga tetap tinggi atau cenderung naik. Penguatan indeks dollar AS sebesar 0,2 hingga 0,3 persen juga semakin menekan permintaan emas di pasar internasional.

Head of Cross Asset Strategy Amundi, Lorenzo Portelli, memberikan pandangan berbeda terkait tekanan inflasi yang timbul dari lonjakan harga energi saat ini.

"Tekanan inflasi akibat lonjakan energi kemungkinan hanya bersifat sementara, bukan berkelanjutan," kata Lorenzo Portelli, Head of Cross Asset Strategy Amundi.

Portelli menilai kondisi inflasi inti saat ini masih relatif stabil jika dibandingkan dengan krisis energi yang terjadi pada tahun 2022 silam.

"Inflasi inti masih relatif terkendali dan lebih stabil dibandingkan saat krisis energi pada 2022, sehingga mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif," ujar Lorenzo Portelli, Head of Cross Asset Strategy Amundi.

Hingga saat ini, pelaku pasar masih memantau perkembangan proses negosiasi damai yang terhambat oleh ancaman militer baru. Sejak eskalasi dimulai pada akhir Februari lalu, total penurunan harga emas tercatat telah mencapai kisaran 10 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi