Nilai tukar emas di pasar global mengalami penurunan signifikan hingga menyentuh titik terendah dalam satu pekan terakhir pada penutupan perdagangan Jumat, 15 Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah yang kembali menyalakan kekhawatiran terhadap inflasi di tingkat global.
Mengutip laporan dari Investasi, situasi tersebut berimplikasi pada kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) serta memperkuat prediksi bahwa kebijakan suku bunga tinggi akan diterapkan dalam jangka waktu yang lebih lama. Harga emas di pasar spot terpantau merosot 2% menjadi US$ 4.557,25 per ons troi pada pukul 08.22 waktu setempat.
Angka tersebut merupakan level terendah sejak 6 Mei 2026, dengan total koreksi mencapai 3,3% dalam kurun waktu sepekan terakhir. Penurunan lebih dalam juga terjadi pada kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni yang menyusut 2,7% ke posisi US$ 4.561,30 per ons troi.
Tekanan terhadap emas terjadi saat yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merangkak naik mendekati level tertingginya dalam setahun. Peningkatan imbal hasil ini membuat aset yang tidak memberikan bunga seperti emas menjadi kurang kompetitif di mata para investor.
Tim Waterer selaku Kepala Analis Pasar KCM Trade menyatakan bahwa pelaku pasar saat ini tengah meragukan potensi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS dalam waktu dekat. Fenomena kenaikan harga minyak menjadi faktor krusial yang memengaruhi dinamika pasar saat ini.
"Naiknya harga minyak membuat kekhawatiran inflasi kembali muncul, mendorong yield dan dolar AS menguat, sehingga emas terkena tekanan dari berbagai arah," ujar Tim Waterer.Kenaikan harga minyak dunia sendiri dipicu oleh eskalasi konflik di wilayah Iran yang mengganggu stabilitas jalur pasokan energi internasional. Harga minyak Brent dilaporkan meningkat 6,6% selama pekan ini dan tetap bertahan di atas angka US$ 108 per barel.
Dampak Geopolitik dan Inflasi AS
Gangguan pada aktivitas di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi energi vital meningkatkan risiko inflasi energi yang bisa merembet ke sektor jasa dan barang lainnya. Sementara itu, data inflasi dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa tekanan harga masih berada di level yang tinggi.
Berdasarkan data CME FedWatch, sekitar 39% pelaku pasar kini mengantisipasi adanya kemungkinan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebelum tahun 2026 berakhir. Selain itu, penguatan indeks dolar AS lebih dari 1% pekan ini membuat emas terasa lebih mahal bagi pemegang mata uang asing lainnya.
Tren penurunan harga emas ini tercatat telah mencapai lebih dari 13% sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dengan Iran pada 28 Februari lalu. Padahal, logam mulia sebelumnya dianggap sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) yang paling dicari saat terjadi ketegangan geopolitik.
Di kancah internasional, kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China berakhir dengan kesepakatan bisnis yang dinilai pasar belum memberikan dorongan positif yang cukup. Beijing juga telah memberikan peringatan keras kepada Washington mengenai isu Taiwan dan menyatakan bahwa perang dengan Iran merupakan hal yang seharusnya dihindari.
Kondisi Pasar Fisik dan Logam Lainnya
Permintaan di pasar fisik Asia menunjukkan tren yang beragam, di mana diskon harga emas di India mencetak rekor tertinggi menyusul kebijakan pemerintah yang menaikkan bea impor. Kebijakan ini memicu pelemahan permintaan serta aksi jual oleh para investor lokal di negara tersebut.
Sebaliknya, premi harga emas di pasar China dilaporkan tetap solid karena tingginya minat investasi dari masyarakat setempat. Kondisi pasar yang tertekan ini ternyata tidak hanya dialami oleh emas, tetapi juga merembet ke komoditas logam mulia lainnya.
| Jenis Komoditas | Harga (per ons troi) | Persentase Penurunan |
|---|---|---|
| Emas Spot | US$ 4.557,25 | 2% |
| Perak | US$ 78,16 | 6,4% |
| Platinum | US$ 1.999,60 | 2,7% |
| Palladium | US$ 1.427,39 | 0,7% |
Harga perak tercatat anjlok paling dalam sebesar 6,4% menuju level US$ 78,16 per ons troi. Sementara itu, platinum mengalami pelemahan sebesar 2,7% ke harga US$ 1.999,60, dan palladium turun tipis 0,7% menjadi US$ 1.427,39 per ons troi.