Nilai tukar emas global mengalami penurunan dan diproyeksikan akan terkoreksi lebih dalam menuju angka US$ 4.637 per ons troi pada sesi perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Tekanan jual yang kuat terus membayangi pergerakan logam mulia ini.
Seperti dikutip dari Investor Daily, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menjadi beban utama bagi pergerakan emas. Selain itu, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ekspektasi suku bunga tinggi dari The Fed turut menekan harga.
Pada saat berita ini disusun, harga emas terpantau melandai sebesar 0,36 persen ke posisi US$ 4.698,75 per ons troi. Kondisi ini mencerminkan sentimen bearish yang masih mendominasi pasar keuangan internasional.
Geraldo Kofit, Analis Dupoin Futures, menjelaskan bahwa grafik pada timeframe H4 masih menunjukkan sinyal koreksi. Hal ini terjadi setelah harga emas tidak mampu mempertahankan momentum penguatan yang sempat muncul sebelumnya.
Meskipun harga sempat menyentuh level dukungan atau support penting dan melakukan pantulan, kenaikan tersebut tidak cukup kuat. Harga gagal melewati batas resistansi utama, sehingga kendali pasar kembali dipegang oleh para penjual.
"Selama harga belum mampu breakout resistance penting, peluang koreksi lanjutan masih cukup terbuka," ujar Geraldo dalam riset hariannya, Rabu 13 Mei 2026.
Dilihat dari sisi teknikal, emas mulai membentuk pola swing high baru yang menjadi indikasi adanya potensi pelemahan lebih lanjut. Pola ABC Correction pada timeframe H4 semakin mempertegas fase koreksi jangka pendek yang sedang berlangsung.
Berdasarkan analisis tersebut, harga emas diprediksi akan kembali meluncur menuju area support terdekat pada level US$ 4.671 per ons troi. Jika tren penurunan ini tetap berlanjut, target berikutnya berada di posisi US$ 4.637 per ons troi.
"Jika tekanan bearish berlanjut, maka target penurunan berikutnya berada di area US$ 4.637 per ons troi," papar Geraldo.
Faktor fundamental juga memegang peranan krusial dalam jatuhnya harga emas. Saat mata uang dolar AS menguat, biaya pembelian emas bagi investor global menjadi lebih mahal, yang akhirnya memicu penurunan permintaan secara luas.
"Selain itu, kenaikan yield obligasi pemerintah AS turut membuat investor beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga," jelasnya.
Pengaruh Kebijakan The Fed dan Sentimen Global
Pasar saat ini masih memprediksi bahwa Bank Sentral AS atau The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Keyakinan ini muncul seiring dengan masih kuatnya data inflasi dan kondisi tenaga kerja di Amerika Serikat.
Kebijakan suku bunga tinggi ini berpotensi menjaga keperkasaan dolar AS sekaligus menutup celah bagi kenaikan harga emas. Di saat yang sama, membaiknya sentimen pasar global mulai menurunkan minat para investor terhadap aset aman atau safe haven.
"Di sisi lain, sentimen pasar global yang mulai membaik turut mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas," tegas Geraldo.
Para pelaku pasar dihimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gejolak harga yang tinggi. Arah gerak logam kuning ini masih sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS terbaru, fluktuasi mata uang dolar, serta kebijakan strategis dari bank sentral di seluruh dunia.