Harga emas digital terpantau mengalami penurunan secara serentak pada Jumat, 23 Mei 2026. Penurunan nilai instrumen investasi ini dipengaruhi secara langsung oleh pergerakan harga emas global serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dikutip dari Investor Daily, minat masyarakat terhadap kepemilikan aset ini sebenarnya terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Fleksibilitas akses secara online dan nominal pembelian yang sangat terjangkau menjadi alasan utama bagi para investor ritel.
Beberapa platform penyedia layanan jual beli emas digital telah memperbarui nominal transaksi mereka. Penurunan harga terjadi baik pada opsi pembelian maupun penjualan kembali oleh nasabah.
| Nama Platform / Perusahaan | Harga Beli (per Gram) | Harga Jual (per Gram) |
|---|---|---|
| PT Indonesia Logam Pratama (Treasury) | Rp 2.591.629 (-Rp 9.140) | Rp 2.505.815 |
| PT Laku Emas Indonesia (Lakuemas) | Rp 2.634.000 (-Rp 6.000) | Rp 2.561.000 (-Rp 6.000) |
| PT Indogold Makmur Sejahtera (IndoGold) | Rp 2.577.422 (-Rp 4.970) | Rp 2.512.000 (-Rp 5.000) |
| PT Syariah Koin Indonesia (ShariaCoin) | Rp 2.721.000 (-Rp 3.000) | Rp 2.641.000 (-Rp 3.000) |
Faktor Tekanan Pasar Global terhadap Komoditas Emas
Kondisi di pasar internasional saat ini memang kurang menguntungkan bagi pergerakan logam mulia. Emas masih berjuang keras untuk keluar dari tekanan yang cukup signifikan belakangan ini.
Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler memberikan analisisnya mengenai posisi komoditas ini di pasar global.
"Emas masih kesulitan keluar dari tekanan meski bertahan di atas area support US$ 4.500 per ons troi. Emas perlu menembus area US$ 4.600 per ons troi untuk kembali menunjukkan sinyal penguatan yang solid. Namun, risiko penurunan masih terbuka menuju area US$ 4.370 per ons troi," jelasnya.
Kebijakan moneter di Amerika Serikat turut andil dalam memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan harga aset lindung nilai ini. Data makroekonomi teranyar membuat ekspektasi pelaku pasar bergeser.
Presiden Asset Strategies International Rich Checkan menilai, kenaikan inflasi produsen dan konsumen di AS membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin mengecil.
"Ekspektasi kenaikan suku bunga kini kembali muncul dan itu biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga emas," ujarnya dikutip dari Kitco.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan proyeksi langkah finansial The Fed membuat volume transaksi perdagangan menjadi lebih terbatas dari biasanya. Kondisi ini membuat pergerakan harga cenderung tertahan.
Presiden Phoenix Futures and Options Kevin Grady juga melihat pasar emas masih bergerak tanpa arah yang jelas. Volume perdagangan dinilai relatif tipis karena investor cenderung menunggu perkembangan konflik Iran dan arah kebijakan The Fed.
Menurut Grady, pasar saat ini masih berada dalam fase wait and see karena risiko kenaikan maupun penurunan harga emas sama besarnya.
Perbedaan pandangan kini terjadi antara analis profesional dan kelompok investor berskala kecil. Perbedaan sentimen ini terlihat dari hasil jajak pendapat mingguan yang dirilis oleh institusi terkait.
Survei mingguan Kitco menunjukkan pelaku pasar Wall Street masih cenderung bearish terhadap prospek emas jangka pendek. Dari 13 analis yang disurvei, sebanyak 62% memperkirakan harga emas akan turun pekan depan.
Namun, investor ritel Main Street masih mempertahankan pandangan bullish. Sebanyak 56% responden meyakini harga emas masih berpotensi naik dalam sepekan ke depan.