Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan signifikan sebesar Rp 75 ribu per gram dalam dua hari terakhir hingga menyentuh kisaran Rp 2,8 juta per gram pada Kamis (23/4/2026). Tren pelemahan ini membuat nilai logam mulia semakin menjauh dari level psikologis Rp 3 juta per gram, dilansir dari Detik Finance.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan batas bawah koreksi harga komoditas ini tidak akan jatuh terlalu dalam. Menurut analisisnya, pergerakan nilai emas saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika situasi geopolitik global yang fluktuatif.
"Kalau seandainya turun pun juga kemungkinan besar hanya di Rp 2,75 juta. Itu level terendah," katanya saat dihubungi detikcom, Kamis (23/4/2026).
Ibrahim juga menilai kemungkinan harga emas merosot hingga ke level Rp 2 juta per gram sangat kecil untuk terjadi. Hal tersebut didasari oleh kondisi mata uang Garuda yang terus menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Nah kalau seandainya bahwa logam mulia itu akan turun di bawah Rp 2 juta sangat sulit. Karena apa? harus ingat bahwa rupiah terus mengalami pelemahan. Pelemahan rupiah yang sekarang sudah di atas Rp 17.300 ini mengindikasi bahwa logam mulia itu akan kembali berjaya lagi," ujar Ibrahim.
Potensi penguatan harga dalam jangka panjang turut didukung oleh pandangan Ariston Tjendra selaku pengamat pasar uang lainnya. Ia menjelaskan bahwa permintaan terhadap aset aman akan tetap tinggi seiring upaya pelaku pasar memitigasi risiko dari berbagai krisis global.
"Ke depannya, jangka yang lebih panjang, harga emas masih berpotensi naik. Pelaku pasar masih akan mencari aset safe haven untuk berjaga-jaga dari krisis atau konflik yang bakal terus ada ke depannya," kata Ariston ketika dihubungi detikcom.
Faktor utama penurunan harga belakangan ini berakar dari ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu pasokan minyak mentah dunia. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga komoditas energi yang berujung pada ekspektasi lonjakan inflasi global.
"Aset safe haven dollar AS menjadi semakin menarik karena ekspektasi kenaikan inflasi ini menaikan tingkat imbal hasil obligasinya. Tingkat imbal hasil yang semakin menarik ini memicu peralihan aset dari safe haven emas ke dollar AS sehingga harga emas turun belakangan ini dan dollar AS menguat," ujar Ariston.