Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kenaikan pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026. Berdasarkan data dari laman Logam Mulia, harga emas di Jakarta naik Rp17.000 dari posisi sebelumnya Rp2.823.000 menjadi Rp2.840.000 per gram.
Kenaikan ini juga diikuti oleh harga pembelian kembali atau buyback yang kini berada di level Rp2.645.000 per gram. Tren positif di pasar domestik ini sejalan dengan dinamika pasar global yang tetap diprediksi kuat untuk jangka panjang.
Dilansir dari Market, target harga emas dunia diproyeksikan bakal menyentuh angka US$5.750 pada tahun 2026. Analisis dari Investing Haven bahkan memperkirakan harga terus merangkak naik hingga US$6.500 pada 2027 dan berpotensi mencapai puncak US$8.150 pada 2030.
Laporan riset tersebut menekankan bahwa pasar emas saat ini berada dalam fase bullish struktural. Kondisi ini didukung oleh berbagai faktor fundamental, termasuk ekspektasi inflasi yang tinggi serta dinamika moneter global yang terus berkembang.
Analisis Pakar Wall Street
Sejumlah analis dari Wall Street memberikan pandangan optimis terhadap pergerakan logam mulia tahun ini. JP Morgan baru saja menaikkan target harga emas mereka ke angka US$6.300 pada akhir tahun.
Langkah serupa juga diikuti oleh investor institusional seperti Deutsche Bank dan Societe Generale yang memprediksi tren kenaikan akan berlanjut hingga 2026. Para ahli melihat reli harga ini bersifat struktural, bukan sekadar spekulasi pasar semata.
"Permintaan emas yang berkelanjutan dari bank sentral, ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung, dan penurunan nilai mata uang akan mendorong harga lebih tinggi," tulis laporan tersebut. Analis di SocGen bahkan menyebut angka US$6.000 bisa terlihat konservatif jika The Fed memangkas suku bunga dan ketegangan di Iran meningkat.
Grafik dan Indikator Kenaikan
Terdapat beberapa indikator utama yang memperkuat sinyal bullish emas, mulai dari grafik harga 20 tahun yang konsisten naik hingga korelasi tinggi terhadap ekspektasi inflasi. Rasio harga emas terhadap inflasi juga dianggap sebagai metrik penting bagi para investor saat ini.
Meskipun koreksi harga tetap mungkin terjadi sewaktu-waktu, para pakar menilai penurunan tersebut hanya sebagai fase konsolidasi. Faktor utama pendorong kenaikan hingga akhir dekade meliputi ekspansi moneter dan breakout grafik jangka panjang.
Di sisi lain, tidak semua institusi memberikan prediksi yang seragam. Analis dari Bank of America memperkirakan harga akan tetap stabil di kisaran US$5.000, sementara HSBC dan Commerzbank memproyeksikan rata-rata harga di angka US$4.000-an per troy ounce.
| Tahun Proyeksi | Target Harga (USD) |
|---|---|
| US$5.750 | Sekitar US$6.500 |
| Sekitar US$7.300 | Puncak US$8.150 |
Harga emas dunia sempat menembus level US$5.000 pada Kamis, 19 Februari, karena tingginya minat investor terhadap aset aman (safe haven). Konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama aksi borong emas oleh para pelaku pasar global sebelum akhirnya kembali berfluktuasi hingga Mei 2026.