Harga Bitcoin Tergelincir Rabu 20 Mei 2026 Akibat Lonjakan Yield Obligasi AS

Harga Bitcoin Tergelincir Rabu 20 Mei 2026 Akibat Lonjakan Yield Obligasi AS
Foto: Ilustrasi Harga Bitcoin Tergelincir Rabu 20 Mei 2026 Akibat Lonjakan Yield Obligasi AS.

Aset risiko global mengalami tekanan yang membuat pasar kripto kehilangan tenaga pada Rabu (20/5/2026) pagi. Melemahnya minat investor ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak dunia, serta ketegangan geopolitik yang memanas.

Dikutip dari Investor Daily, kapitalisasi pasar kripto global menyusut 0,54% menjadi US$ 2,55 triliun berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.45 WIB. Nilai Bitcoin (BTC) terkoreksi 0,23% menuju level US$ 76.846 per koin atau setara Rp 1,36 miliar dengan acuan kurs Rp 17.768.

Penurunan ini juga diikuti oleh indeks CoinDesk 20 yang merepresentasikan pergerakan 20 aset kripto terbesar dengan pelemanan sebesar 0,17%. Nilai Ethereum terpangkas 0,84% ke US$ 2.113, Binance (BNB) turun 0,56% menjadi US$ 640, dan Solana (SOL) anjlok 1,23% ke US$ 84. Selain itu, Dogecoin (DOGE) merosot 1,65% ke US$ 0,1 serta XRP jatuh 2,1% menuju US$ 1,36.

Kondisi pasar yang tertekan ini berjalan selaras dengan melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi AS tenor panjang. Yield Treasury 30 tahun bahkan menembus level tertinggi sejak Juli 2007, yang kemudian memicu kepanikan di Wall Street serta menekan aset safe haven seperti emas spot hingga di bawah US$ 4.500 per ons troi.

Analis pasar The Kobeissi Letter mengungkapkan bahwa pergerakan aset kripto saat ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak, ekspektasi inflasi, serta kebijakan suku bunga bank sentral.

Situasi tersebut kian dinamis setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras kepada negara-negara Teluk untuk bersiap mendukung serangan besar ke Iran andai proses negosiasi tidak membuahkan kesepakatan.

Kombinasi dari melambungnya imbal hasil obligasi dan tingginya harga minyak dinilai menjadi beban ganda bagi instrumen investasi high-risk seperti Bitcoin. Analis kripto Michaël van de Poppe menjelaskan situasi tersebut memicu sentimen negatif yang cukup kuat.

"Dua faktor tersebut tidak mendukung aset risk-on termasuk Bitcoin. Pasar membutuhkan pembalikan arah yield dan harga minyak untuk memulihkan sentimen positif," ujarnya.

Saat ini Bitcoin sedang menguji area support yang sangat krusial. Jika pergerakannya terus menembus ke bawah kisaran US$ 75.000 hingga US$ 76.000, fase akumulasi diperkirakan memakan waktu yang lebih lama sebelum momentum pembalikan arah atau rebound kembali terjadi.

Artikel terkait

Rekomendasi