Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dilaporkan mulai mengubah peta persaingan industri otomotif nasional seiring meningkatnya minat konsumen terhadap mobil listrik. Fenomena pergeseran preferensi pasar dari kendaraan konvensional ke elektrik ini dipicu oleh keinginan masyarakat untuk menekan biaya operasional kendaraan harian.
Presiden Direktur PT Kreasi Auto Kencana, Andee Yoestong, memprediksi kendaraan listrik (EV) akan menjadi alternatif utama bagi konsumen di tengah tekanan harga bahan bakar yang terus meningkat. Berdasarkan data yang dilansir dari Otomotif, saat ini porsi penjualan unit mobil listrik sudah mencapai kisaran 30 hingga 40 persen dari total pasar.
"Kalau saya melihatnya daerah yang saya nambah ini mungkin yang kelasnya bukan kelas atas-atas ya. Kelas Stargazer (low MPV) gitu ya kan tetap peminat. Tapi jangan melihat mobil-mobil ini sekarang murah. Kalau bensin bakal naik gila-gilaan ya pasti orang susah," ujar Andee Yoestong, Presiden Direktur PT Kreasi Auto Kencana kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Ekspansi merek-merek baru, terutama produsen otomotif asal China, memberikan pengaruh besar pada ketersediaan pilihan unit bagi konsumen di Indonesia. Sebagai pimpinan diler yang membawahi merek Hyundai, DFSK-Seres, Hino, Nissan, dan Ford, Andee mencatat dominasi mesin bensin masih kuat meski tren EV tumbuh pesat.
"(Penjualan) masih banyak (mobil) bensin. EV China juga banyak. Mungkin yang EV 30-40 persen, sisanya bensin," ucap Andee Yoestong, Presiden Direktur PT Kreasi Auto Kencana.
Kondisi pasar global juga disebut turut memperkuat prospek kendaraan ramah lingkungan tersebut di dalam negeri. Kenaikan harga bahan bakar di pasar internasional menjadi indikator kuat bagi percepatan adopsi teknologi baterai pada sektor transportasi.
"Saya rasa sih begitu ya (penjualan EV akan terus meningkat), apalagi keadaan dunia sekarang harga BBM naik terus. Saya kan baru pulang dari Chicago, aduh di sana harga BBM ampun," kata Andee Yoestong, Presiden Direktur PT Kreasi Auto Kencana.
Strategi diler saat ini berfokus pada penyediaan unit dengan harga yang lebih terjangkau untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian harga BBM. Peluang ekspansi jaringan diler masih dinilai terbuka lebar, khususnya untuk segmen kendaraan entry-level yang efisien.
"Kalau saya bilang sih mungkin banyak yang baru ya, muncul-muncul ya (produk baru) dan harga akan lebih murah. Orang bilang bakal naik (harga), saya tidak melihat gitu ya. Saya rasa mobilnya mereka masih tetap lah ya, murah-murah dari China," kata Andee Yoestong, Presiden Direktur PT Kreasi Auto Kencana.
Perubahan perilaku konsumen yang kini jauh lebih sensitif terhadap biaya penggunaan kendaraan menuntut produsen otomotif untuk lebih adaptif. Kenaikan harga BBM pada akhirnya menjadi faktor penentu yang mendorong percepatan ekosistem kendaraan listrik nasional.