Hanung Bramantyo Terapkan Pola Asuh Tegas Berbasis Prestasi Anak

Hanung Bramantyo Terapkan Pola Asuh Tegas Berbasis Prestasi Anak
Foto: Ilustrasi Hanung Bramantyo Terapkan Pola Asuh Tegas Berbasis Prestasi Anak.

Sutradara Hanung Bramantyo menerapkan metode pengasuhan tegas dengan mewajibkan anak-anaknya mengukir pencapaian nyata sebelum memperoleh barang atau hadiah yang diinginkan. Prinsip tersebut diterapkan guna membentuk kemandirian dan arah hidup yang jelas sejak dini bagi sang buah hati.

Langkah pengasuhan ini diambil karena anak-anaknya kerap memperlihatkan kemampuan akting demi mendapatkan keinginan mereka. Seperti dilansir dari Detik Hot pada Sabtu (16/5/2026), suami Zaskia Adya Mecca tersebut mengaku sering menghadapi rengekan anak-anaknya yang membandingkan fasilitas pribadi dengan kepunyaan teman sebaya mereka di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

"Anak saya itu semuanya pintar main drama. Jadi dikit-dikit nangis, 'Duh teman saya di sana beli mobil ini Pak, kok kita gak punya mobil ini'. 'Gak bisa gitu dong, mentang-mentang Bapak lu kaya... gak," kata Hanung Bramantyo.

Sikap tegas diambil oleh sutradara asal Yogyakarta tersebut agar tidak luluh oleh tangisan anak-anaknya. Dirinya selalu menguji pilihan hidup dan menuntut adanya progres maksimal dari buah hatinya tanpa hanya mengandalkan fasilitas orang tua.

"Saya selalu bilang bahwa ketika kamu punya sesuatu ya kamu harus nunjukin bahwa kamu punya prestasi. Prestasi kamu apa? Dari sekarang makanya saya minta anak saya untuk menentukan pilihan," beber Hanung Bramantyo.

Selain fokus pada capaian, pembentukan karakter yang kuat juga menjadi perhatian utama bagi sutradara film Children of Heaven ini. Ia berupaya keras menghindari pola asuh yang membentuk mentalitas lemah atau mental tempe pada anak-anaknya.

"Mental tempe itu sangat membekas sekali buat saya. Jadi kita harus diinjak-injak dulu untuk bisa bilang 'Oke' gitu kan, itu kan mengerikan sekali kan. Nah saya bilang begitu ke anak-anak saya. Jangan sampai ya kamu itu harus dibentak dulu, harus diinjak-injak dulu baru kemudian kamu bisa pintar," tegasnya.

Anak-anaknya tetap diberikan kebebasan penuh dalam menentukan minat dan bakat, baik di bidang seni, akademik, maupun olahraga. Namun, pemberian barang atau hadiah tetap didasarkan pada tantangan pencapaian yang berhasil dipenuhi oleh anak-anak sebagai bentuk apresiasi.

"Semua saya minta untuk memilih dulu baru kemudian dari milih itu nanti dia akan berprestasi sesuai dengan pilihannya itu. Dan ketika dia punya mau, saya akan mengujinya dulu. Kamu harus memberikan prestasi dulu di situ baru kemudian Abimu akan ngasih sesuatu," pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi