Pelatih Barcelona Hansi Flick memberikan respons dingin terhadap aksi pemain sayap Lamine Yamal yang mengibarkan bendera Palestina dalam parade juara LaLiga di jalanan kota Barcelona pada Selasa kemarin. Dilansir dari Suara, Flick mengaku tetap menghargai kedewasaan pemain berusia 18 tahun tersebut meski secara pribadi tidak menyukai keterlibatan unsur politik dalam perayaan tim.
Aksi Yamal yang memamerkan dukungan secara terbuka di hadapan sekitar 750.000 penggemar tersebut menjadi sorotan luas. Bintang muda keturunan Maroko itu juga membagikan momen emosional dukungannya terhadap Palestina melalui akun Instagram pribadinya saat merayakan gelar juara liga yang diraih klub secara beruntun.
Hansi Flick menjelaskan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan tertutup dengan sang pemain untuk mendiskusikan implikasi dari tindakan tersebut. Flick menekankan pentingnya menjaga fokus pada fungsi utama sepak bola sebagai pemberi kebahagiaan bagi masyarakat tanpa adanya embel-embel isu luar.
"Ini biasanya tidak saya sukai," kata Flick saat memberikan keterangan dalam konferensi pers pada hari Selasa kemarin.
Pelatih berkebangsaan Jerman tersebut menyatakan bahwa pilihan politik merupakan hak pribadi bagi setiap pemain yang sudah menginjak usia dewasa. Ia menegaskan telah menyampaikan pandangannya secara langsung kepada Yamal mengenai keputusan tersebut.
"Saya berbicara dengannya. Saya katakan jika dia menginginkan ini, itu adalah keputusannya. Dia sudah cukup dewasa. Dia berusia 18 tahun," tambahnya.
Flick berpendapat bahwa gairah ratusan ribu pendukung yang memadati jalanan Barcelona menunjukkan ekspektasi besar publik terhadap performa teknis tim. Baginya, tugas utama para pemain adalah memenuhi harapan tersebut melalui penampilan di lapangan hijau.
"Kami bermain sepak bola dan Anda bisa melihat apa yang orang harapkan dari kami," ujar Flick menjelaskan sudut pandangnya.
Fokus pelatih kawakan ini tetap tertuju pada bagaimana sepak bola dapat menjadi sarana hiburan bagi para penggemar setia klub. Ia menekankan bahwa prioritas tertinggi adalah memberikan kegembiraan melalui olahraga.
"Kami bermain sepak bola untuk membuat orang bahagia. Ini bagi saya adalah hal pertama yang harus kami lakukan," tegas sang pelatih.
Fenomena dukungan terhadap Palestina ini muncul di tengah arus besar penolakan krisis kemanusiaan di Gaza yang juga merambah ke cabang olahraga lain seperti balap sepeda dan basket. Spanyol sendiri diketahui mengambil posisi tegas dengan menjadi salah satu dari lima negara yang memboikot Eurovision sebagai bentuk protes resmi.
Kini perhatian publik beralih pada kesiapan Lamine Yamal yang dijadwalkan membela tim nasional Spanyol pada ajang Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Spanyol akan memulai laga pembuka Grup H melawan Tanjung Verde pada 15 Juni mendatang, diikuti pertandingan melawan Arab Saudi dan Uruguay.