Lonjakan harga minyak yang dipicu oleh konflik geopolitik memberikan tekanan yang jauh lebih besar terhadap ekonomi global jika dibandingkan dengan guncangan harga energi biasa. Fenomena ini tidak hanya memicu inflasi, tetapi juga merembet pada kenaikan harga gas alam, pupuk, hingga bahan pangan.
Analisis tersebut tertuang dalam riset terbaru Centre for Economic Policy Research (CEPR) melalui VoxEU bertajuk Geopolitical Oil Price Shocks: Why These Shocks Hit Harder. Laporan yang dikutip dari Money ini disusun oleh peneliti Guillermo Verduzco-Bustos dan Francesco Zanetti.
Menurut hasil riset tersebut, gangguan harga minyak akibat ketegangan geopolitik memiliki karakteristik serupa dengan gangguan pasokan berat atau severe oil supply shocks. Hal ini menyebabkan penurunan produksi sekaligus kenaikan harga yang lebih tajam daripada dinamika pasar konvensional.
Penelitian ini menantang pandangan lama bahwa lonjakan harga energi hanya merugikan negara importir. Sebaliknya, data menunjukkan tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan karena eksportir pun menghadapi ketidakpastian tinggi dan gangguan perdagangan global.
Salah satu poin krusial dalam temuan CEPR adalah luasnya transmisi guncangan ke berbagai sektor. Simulasi menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10 persen akibat faktor geopolitik mampu mendorong indeks harga komoditas secara keseluruhan naik sekitar 6,5 persen.
Dampak paling signifikan terlihat pada harga gas alam yang melonjak 7 persen, diikuti harga pupuk yang meningkat sekitar 5,4 persen. Komoditas lain seperti bahan mentah, logam mulia, dan pangan juga ikut terdampak meski dalam skala yang lebih kecil.
Para peneliti menilai pola ini mencerminkan posisi minyak sebagai input produksi sekaligus komponen biaya transportasi utama. Tekanan ini menjalar cepat ke biaya produksi industri dan harga barang konsumsi di pasar global.
Ancaman Stagflasi dan Penurunan Produksi
Selain menekan pasar komoditas, guncangan geopolitik berdampak nyata pada aktivitas ekonomi makro. Riset menemukan bahwa kenaikan harga minyak 10 persen rata-rata menurunkan produksi industri di negara-negara OECD sebesar 0,5 persen.
Pada saat yang sama, indeks harga konsumen justru mengalami peningkatan sekitar 0,3 persen. Kondisi ini menciptakan pola stagflasi, di mana pertumbuhan ekonomi melambat secara drastis sementara beban inflasi terus merangkak naik.
CEPR menjelaskan bahwa tekanan ini lebih berat karena unsur ketidakpastian geopolitik memperburuk respons pasar. Pelaku usaha cenderung menahan investasi, sementara konsumen mulai mengurangi belanja akibat keraguan terhadap masa depan ekonomi.
"Meskipun negara-negara pengekspor minyak mungkin awalnya mendapat manfaat dari harga yang lebih tinggi, keuntungan ini diimbangi oleh meningkatnya ketidakpastian dan gangguan terhadap perdagangan global dan kondisi keuangan," kata CEPR.
Implikasi Bagi Kebijakan Bank Sentral
Situasi ini membuat respons kebijakan bank sentral menjadi lebih rumit. Jika otoritas moneter terlalu agresif menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi, risiko perlambatan ekonomi akan semakin besar.
Penelitian menegaskan bahwa memahami sumber guncangan menjadi sangat penting bagi pengambil kebijakan. Memperlakukan gangguan geopolitik sama seperti guncangan harga minyak biasa berisiko menghasilkan respons kebijakan yang tidak memadai.
"Guncangan harga minyak (akibat) geopolitik menyerupai guncangan pasokan minyak yang parah," tulis Verduzco-Bustos dan Zanetti dalam riset tersebut.
"Kenaikan harga minyak sebesar 10 persen yang dipicu oleh guncangan geopolitik akan menaikkan indeks harga komoditas secara keseluruhan sekitar 6,5 persen," tulis CEPR dalam laporan risetnya.
"Rata-rata, kenaikan harga minyak sebesar 10 persen mengurangi produksi industri di negara-negara OECD sekitar 0,5 persen dan menaikkan harga konsumen sekitar 0,3 persen," tulis CEPR dalam riset tersebut.
"Yang perlu diperhatikan, hasil tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang jelas antara pemenang dan pecundang," ungkap CEPR.
"Guncangan harga minyak geopolitik berdampak lebih berat," tulis Verduzco-Bustos dan Zanetti, merangkum inti temuannya.