Generasi muda di Korea Selatan mulai meninggalkan tradisi hoesik atau budaya makan malam dan minum bersama rekan kerja setelah jam kantor pada Jumat, 17 April 2026. Pergeseran perilaku sosial ini menandai berakhirnya era pertemuan kerja hingga dini hari yang sebelumnya dianggap sakral.
Hwang Sang-pyo, seorang pekerja kantoran, mengungkapkan bahwa durasi pertemuan tersebut kini telah mengalami pemendekan yang signifikan dibandingkan masa lalu. Penurunan intensitas minum ini mengubah wajah interaksi sosial di perkantoran Seoul dan kota besar lainnya sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
"Sekarang kalau sudah jam 11 malam atau tengah malam, orang-orang merasa sudah waktunya pulang. Minum sampai pagi sudah tidak lazim lagi," kata Hwang Sang-pyo.
Sentimen serupa dirasakan oleh pekerja lain bernama Kim yang mengaitkan fenomena ini dengan dampak pembatasan aktivitas selama beberapa tahun terakhir. Kim menilai pola pikir pekerja telah beradaptasi dengan ritme hidup yang lebih personal.
"Setelah Covid-19, budaya itu berubah. Saat ada pembatasan jam malam, orang jadi terbiasa pulang lebih awal," kata Kim.
Sementara itu, Choi Seung-yeon mewakili kelompok anak muda yang memilih untuk menghindari alkohol sepenuhnya dalam lingkaran pertemanan mereka. Baginya, bersosialisasi tidak lagi harus identik dengan konsumsi minuman keras dalam jumlah besar.
"Saya tidak pernah merasakan minum sampai larut bersama teman. Kalau berkumpul, biasanya kami ke kafe," ujar Choi Seung-yeon.
Data dari Korea Disease Control and Prevention Agency memperkuat tren ini dengan mencatat tingkat konsumsi alkohol berlebihan bulanan turun menjadi 33,8% pada 2025. Wilayah Sejong mencatatkan angka terendah sebesar 28,2%, sementara Ulsan menjadi yang tertinggi dengan 39,2%.
Penurunan paling drastis terlihat pada kelompok usia 20-an di Sejong, di mana angka konsumsi anjlok dari 68,3% menjadi 50,5%. Secara nasional, sebanyak 56% pemuda di rentang usia tersebut dilaporkan jarang atau tidak mengonsumsi alkohol sama sekali.
Profesor sosiologi Hanyang University, Kim Sang-hag, memberikan analisis terkait hilangnya kebiasaan kolektif ini pada angkatan kerja baru. Hal ini disebabkan oleh absennya masa orientasi sosial tradisional selama masa pandemi.
"Mereka melewatkan tradisi minum bersama saat awal kuliah, sehingga tidak membentuk kebiasaan seperti generasi sebelumnya," kata Kim Sang-hag.