Gen Z Jadikan Layar Ponsel Teman Makan untuk Usir Rasa Sepi

Gen Z Jadikan Layar Ponsel Teman Makan untuk Usir Rasa Sepi
Foto: Ilustrasi Gen Z Jadikan Layar Ponsel Teman Makan untuk Usir Rasa Sepi.

Rutinitas menyantap hidangan sembari menatap layar aplikasi streaming kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian Generasi Z atau Gen Z. Aktivitas konsumsi pangan tersebut kini tidak lagi sekadar urusan pemenuhan nutrisi, melainkan bertransformasi menjadi waktu rekreasi digital.

Platform populer seperti TikTok, YouTube, hingga Netflix kerap dipilih sebagai pendamping saat makan untuk melepas penat. Dikutip dari Megapolitan, fenomena ini menunjukkan bahwa suara dan visual dari perangkat elektronik telah menjadi pelengkap yang membuat suasana makan terasa lebih hidup.

Bagi banyak anak muda, keheningan di meja makan justru memicu rasa canggung dan tidak nyaman. Kehadiran gawai berfungsi sebagai pengalih perhatian dari rasa sepi atau penat setelah menjalani rutinitas harian yang padat.

Andreas (26) merupakan salah satu pemuda yang merasakan perubahan kebiasaan ini sejak masa kuliah. Saat mulai hidup mandiri di perantauan, suasana kamar kos yang sunyi mendorongnya untuk mencari suara latar melalui laptop.

"Dulu awalnya cuma iseng biar enggak sepi, apalagi habis pulang kampus capek dan kamar kos juga sunyi posisinya, lama-lama malah kebiasa," ujar Andreas.

Kebiasaan tersebut terus bertahan hingga kini, di mana Andreas secara otomatis membuka ponsel atau laptop sebelum mulai menyantap makanannya. Tanpa tontonan, ia merasa waktu makan menjadi terlalu hening dan ingin segera menyelesaikannya.

"Pernah beberapa kali sengaja coba makan tanpa HP, tapi jadinya hening aja gitu, buru-buru selesai karena enggak ada yang dilihat," katanya.

Selain Andreas, pemuda lain bernama Darendra (25) sudah terbiasa dengan pola ini sejak masa kecil karena televisi di rumahnya selalu menyala saat jam makan. Kini, ia lebih sering mengakses YouTube melalui gawai untuk mengusir pikiran yang melayang ke masalah pekerjaan atau tugas.

"Kalau makan tanpa nonton saya malah sering bengong sendiri. Kadang pikiran ke mana-mana, kepikiran tugas, kerjaan, atau masalah lain," tutur Darendra.

Risiko Perpanjangan Durasi Makan dan Distraksi

Meski memberikan hiburan, kebiasaan menyandingkan makanan dengan layar digital berdampak langsung pada durasi makan yang menjadi lebih lama. Konten podcast atau vlog yang menarik sering kali membuat seseorang tetap duduk meski makanan telah habis.

"Kadang saya juga sengaja cari video yang durasinya sekitar 15ÔÇô20 menit karena kira-kira sama dengan waktu makan," ucap Andreas.

Namun, jika konten yang ditonton bersambung, durasi makan bisa membengkak secara signifikan.

"Tapi kalau sambil YouTube bisa sampai 30 menit karena lanjut video lain terus," katanya.

Darendra juga mengalami hal serupa, di mana ia bisa menghabiskan waktu hampir satu jam untuk makan sambil mengikuti podcast favoritnya.

"Harusnya 15 menit selesai, tapi karena keterusan nonton podcast jadi bisa hampir sejam sendiri," ujar Darendra.

Fenomena Mindless Eating dalam Perspektif Psikologi

Psikolog Virginia Hanny menjelaskan bahwa perilaku ini sangat berkaitan dengan budaya multitasking dan pola hidup digital yang kuat pada Gen Z. Otak mulai mengasosiasikan momen makan dengan kebutuhan akan stimulasi eksternal yang cepat.

Layar sering kali berfungsi sebagai alat distraksi untuk menghindari ketidaknyamanan emosional atau stres.

"Dalam banyak situasi, layar berfungsi sebagai distraksi untuk mengalihkan diri dari perasaan stres, kebiasaan overthinking, perasaan sepi atau ketidaknyamanan emosional," kata Virginia.

Virginia memperingatkan adanya risiko fenomena mindless eating, di mana seseorang kehilangan kesadaran terhadap rasa lapar, kenyang, maupun rasa dari makanan itu sendiri.

"Akibatnya, seseorang bisa makan dengan lebih cepat, lebih banyak dari yang dibutuhkan atau justru tidak benar-benar menikmati makanan. Hal ini dikenal sebagai fenomena mindless eating," tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa stimulasi terus-menerus dapat membuat momen hening terasa membosankan dan memicu kegelisahan.

"Jika otak terus terbiasa dengan stimulasi eksternal, momen hening bisa mulai terasa membosankan, bahkan tidak nyaman dan membuat gelisah," kata Virginia.

Artikel terkait

Rekomendasi