GAC Aion i60 Kenalkan Teknologi REEV untuk Efisiensi Kendaraan Listrik

GAC Aion i60 Kenalkan Teknologi REEV untuk Efisiensi Kendaraan Listrik
Foto: Ilustrasi GAC Aion i60 Kenalkan Teknologi REEV untuk Efisiensi Kendaraan Listrik.

GAC Aion i60 memperkenalkan inovasi sistem penggerak melalui varian Battery Electric Vehicle (BEV) dan Range Extender Electric Vehicle (REEV) di Beijing, China, untuk mengoptimalkan pemanfaatan daya. Teknologi ini menawarkan solusi bagi pengguna yang menginginkan sensasi berkendara listrik dengan cadangan energi tambahan.

Perbedaan mendasar antara REEV, hybrid, dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) terletak pada peran mesin bensin di dalam sistem. Dilansir dari Otomotif, kendaraan REEV mengandalkan motor listrik sepenuhnya sebagai penggerak utama, sementara mesin bensin hanya bertugas sebagai pengisi daya baterai.

Product Planning and Strategy GAC Indonesia, Iqbal Taufiqurrahman, menjelaskan bahwa sistem ini memberikan fleksibilitas lebih bagi pengemudi. Mesin bensin di dalam mobil berfungsi secara mandiri untuk mendukung kinerja baterai saat kapasitas mulai menurun.

"Kalau REEV, penggeraknya dari motor listrik. Sumber energinya juga dari baterai yang ada di dalam mobil tersebut. Namun, ditambah mesin yang berfungsi sebagai generator," kata Iqbal.

Pemisahan fungsi ini membuat mesin tidak memiliki hubungan mekanis dengan roda. Iqbal menekankan bahwa operasional mesin bensin pada unit REEV sangat spesifik dan hanya aktif pada kondisi tertentu.

"Jadi mesin itu hanya digunakan untuk mengisi baterai, bukan sebagai penggerak. Mesinnya bensin, mesin bensin biasa. Mesin ini akan menyala ketika baterai habis," ujar Iqbal.

Analogi yang digunakan untuk mempermudah pemahaman teknologi ini adalah seperti kendaraan yang membawa perangkat pembangkit listrik mandiri. Hal ini berbeda dengan mobil konvensional yang menyalurkan tenaga mesin langsung ke sistem transmisi.

"Jadi, kurang lebih seperti mobil yang membawa genset sendiri. Genset itu adalah mesinnya. Mesin tersebut berfungsi untuk menghasilkan daya yang kemudian disalurkan ke baterai, dan tidak terhubung ke roda," kata Iqbal.

Dari sisi spesifikasi teknis, penggunaan mesin berkapasitas kecil menjadi salah satu keunggulan efisiensi pada sistem REEV. Produsen tidak perlu menyematkan mesin besar karena beban kerja mesin hanya terbatas pada produksi listrik.

"Keunggulannya apa? Yang pasti, pertama, tidak perlu menggunakan mesin yang terlalu besar. Cukup mesin kecil yang umum," ujar Iqbal.

Mengenai kemampuan jelajah, posisi REEV berada di antara sistem hybrid standar dan PHEV. Teknologi ini diklaim mampu menempuh jarak yang lebih jauh jika dibandingkan dengan mobil hybrid konvensional yang masih mengandalkan mesin sebagai penggerak roda.

"Jarak tempuhnya lebih jauh dibandingkan mobil hybrid biasa. Tetapi kalau dibanding PHEV, jaraknya sedikit lebih jauh PHEV. Jadi, posisinya di tengah-tengah, antara hybrid biasa dan PHEV," kata Iqbal.

Iqbal juga merinci karakteristik mobil hybrid biasa yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada bahan bakar fosil. Ukuran baterai yang terbatas menjadi alasan utama mesin bensin pada model hybrid lebih sering beroperasi aktif.

"Kalau hybrid biasa, penggeraknya masih dari mesin bensin. Meski ada beberapa macam, ada yang dari mesin bensin, ada yang pakai motor listrik. Namun, baterainya kecil, sehingga mesin masih harus sering menyala," kata Iqbal.

Kenyamanan berkendara pada REEV diklaim menyerupai mobil listrik murni karena suara mesin yang minim dan akselerasi yang halus. Fokus utama tetap pada kapasitas baterai yang lebih besar daripada sistem hybrid biasa untuk menjaga performa motor listrik.

"Sementara pada range extender EV ini, penggerak utamanya murni dari baterai dan motor listrik. Kapasitas baterainya juga lebih besar dibandingkan hybrid biasa," kata Iqbal.

Penempatan mesin sebagai generator memastikan transisi energi berlangsung tanpa mengganggu kehalusan traksi kendaraan. Pengemudi tetap mendapatkan pengalaman berkendara senyap khas kendaraan bertenaga baterai murni.

"Mesinnya hanya akan menyala untuk mengisi baterai. Jadi, mobil tetap terasa halus saat berjalan. Apalagi ketika mesin mati, benar-benar terasa seperti mobil listrik pada umumnya," ujar Iqbal.

Artikel terkait

Rekomendasi