Legenda urban masyarakat Minahasa tentang makhluk pemangsa bernama Songko resmi diadaptasi menjadi karya sinematik. Film horor berjudul Songko: Kisah Petaka dari Sulawesi ini memadukan ketakutan lokal dengan kekayaan budaya Sulawesi Utara, seperti dikutip dari Lifestyle.
Cerita dalam film ini mengambil latar waktu pada tahun 1986. Pada masa tersebut, desa-desa terpencil di wilayah Minahasa masih memegang teguh tradisi serta mitos leluhur dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Kisah bermula di sebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Kedamaian desa terusik ketika serangkaian kematian misterius mulai merenggut nyawa para perempuan muda secara berturut-turut.
Film ini mengedepankan aspek keaslian daerah sebagai kekuatan utamanya. Dialog antar karakter menggunakan Bahasa Manado yang kental, didukung oleh keterlibatan kru dan pemain yang mayoritas berasal dari Sulawesi.
Proses pengambilan gambar dilakukan secara langsung di Tomohon dengan membangun set dari titik awal. Langkah ini bertujuan menghidupkan suasana desa, mulai dari aroma tanah basah hingga bayang-bayang hutan yang mencekam.
Fokus utama cerita terletak pada sosok Songko, makhluk misterius yang diyakini sebagai penghisap darah. Dalam kepercayaan lokal, Songko dianggap sebagai pemburu darah suci yang berakar kuat dalam cerita rakyat Minahasa.
Konflik Sosial dan Prasangka Desa
Kematian berantai yang terjadi memicu ketakutan kolektif di kalangan warga desa. Namun, film ini tidak hanya menjual teror makhluk gaib, tetapi juga mengeksplorasi konflik antar manusia yang mendalam.
Tokoh bernama Helsye, seorang ibu tiri, menjadi sasaran tuduhan warga sebagai jelmaan atau pemanggil makhluk tersebut. Prasangka ini membawa dampak buruk bagi putrinya, Mikha, yang harus menanggung stigma sosial yang kejam.
Tekanan komunitas yang mengucilkan keluarga tersebut memunculkan pertanyaan bagi Mikha. Ia harus berhadapan dengan kenyataan apakah ancaman nyata berasal dari makhluk legenda atau justru dari kebencian warga desa.
Potensi Cerita Rakyat Nusantara
Songko: Kisah Petaka dari Sulawesi berupaya melampaui standar horor konvensional dengan menyoroti kehancuran individu akibat ketakutan massa. Film ini menjadi bukti bahwa cerita rakyat Nusantara memiliki potensi besar untuk layar lebar.
Pendekatan yang autentik dan penghormatan terhadap akar budaya menjadi kunci dalam penyampaian narasi ini. Melalui kisah Songko, penonton diajak melihat bagaimana sebuah keluarga berjuang bertahan di tengah tekanan komunitas yang tidak memihak mereka.