Film Ghost in The Cell Joko Anwar Tembus 1,3 Juta Penonton

Film Ghost in The Cell Joko Anwar Tembus 1,3 Juta Penonton
Foto: Ilustrasi Film Ghost in The Cell Joko Anwar Tembus 1,3 Juta Penonton.

Film horor terbaru karya sutradara Joko Anwar, Ghost in The Cell, mencatatkan pencapaian luar biasa di industri perfilman tanah air. Dilansir dari Suara, karya ini berhasil menarik minat lebih dari 1,3 juta penonton hanya dalam waktu delapan hari sejak pertama kali dirilis di bioskop.

Kesuksesan ini semakin mengukuhkan reputasi Joko Anwar sebagai sineas yang ahli dalam meramu ketegangan horor dengan muatan kritik sosial yang mendalam. Fenomena film ini juga memicu gelombang diskusi di berbagai platform media sosial terkait pesan moral yang disampaikan.

Menanggapi antusiasme publik, Joko Anwar memberikan pernyataan melalui akun Instagram pribadinya. Alih-alih sekadar merayakan angka komersial, ia justru melontarkan sindiran tajam yang merefleksikan plot film mengenai sulitnya mengakses keadilan di kehidupan nyata.

"Baru 8 hari. Sudah 1,3 juta penonton harus minta tolong sama sama hantu untuk dapetin keadilan. Mudah-mudahan cuma di film. Di dunia nyata kan nggak harus ya. Ya kan? Kan?" ujar Joko Anwar pada Jumat, 24 April 2026.

Pernyataan tersebut memancing reaksi ribuan pengguna internet yang merasa kutipan itu sangat relevan dengan kondisi hukum saat ini. Banyak pihak menilai bahwa sindiran tersebut mencerminkan keresahan masyarakat terhadap sistem keadilan yang seringkali dianggap tidak merata.

Ghost in The Cell menggunakan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Labuhan Angsana sebagai latar tempat utamanya. Penjara ini digambarkan sebagai lokasi yang sangat mencekam dan jauh dari fungsi rehabilitasi yang seharusnya.

Para penghuni lapas harus menghadapi tekanan berlapis, mulai dari tindakan sewenang-wenang oknum pejabat penjara hingga konflik kekerasan antar narapidana. Suasana di dalam sel semakin tegang setelah kedatangan seorang narapidana baru yang memicu rangkaian peristiwa tragis.

Satu per satu narapidana ditemukan tewas secara brutal dengan kondisi yang tidak wajar. Kejadian misterius ini membuat para penghuni sadar bahwa mereka tengah menjadi sasaran sosok hantu penunggu lapas yang haus akan energi negatif.

Makhluk gaib tersebut diketahui hanya mengincar mereka yang memiliki perilaku buruk dan aura negatif di dalam diri. Hal ini menciptakan situasi unik di mana para narapidana yang biasanya hidup keras mulai berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan.

Untuk bertahan hidup dari kejaran entitas mistis tersebut, para narapidana dipaksa menekan ego mereka dan bersatu menjaga aura tetap positif. Upaya kolektif ini menjadi satu-satunya cara bagi mereka untuk menghindari ancaman maut yang mengincar di balik jeruji besi.

Artikel terkait

Rekomendasi