FIFA Hadapi Kendala Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Akibat Harga Mahal

FIFA Hadapi Kendala Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Akibat Harga Mahal
Foto: Ilustrasi FIFA Hadapi Kendala Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Akibat Harga Mahal.

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dilaporkan kesulitan menjual habis tiket pertandingan fase grup Piala Dunia 2026 akibat kebijakan harga yang sangat tinggi. Sejumlah kursi laga pembuka di Amerika Serikat masih belum terjual meski turnamen dijadwalkan dimulai dalam waktu kurang dari 40 hari.

Dilansir dari Suara, pertandingan perdana tim nasional Amerika Serikat melawan Paraguay di Los Angeles menjadi salah satu laga yang paling terdampak. Tiket untuk pertandingan tersebut dibanderol mulai dari 1.120 dolar AS hingga 4.105 dolar AS, sementara paket layanan hospitality mencapai 6.050 dolar AS per kursi.

Hingga saat ini, ketersediaan tiket masih terpantau dalam kanal penjualan menit akhir di laman resmi organisasi tersebut. FIFA menargetkan pendapatan menembus angka 11 miliar dolar AS dari turnamen yang diselenggarakan di tiga negara Amerika Utara ini.

Mantan CEO Liverpool FC, Peter Moore, memberikan kritik tajam terhadap strategi komersial yang diterapkan oleh otoritas sepak bola dunia tersebut di pasar Amerika Serikat. Ia menilai persentase pengambilan keuntungan dari sistem harga dinamis yang diberlakukan sudah melampaui batas kewajaran.

"FIFA mengambil keuntungan dari peluang komersial unik di AS. Mengambil 30 persen dari dynamic pricing itu keterlaluan," kata Moore kepada Al Jazeera.

Moore menambahkan bahwa manajemen keuangan organisasi seharusnya mampu menciptakan keseimbangan antara profitabilitas dan keterjangkauan harga bagi para penggemar sepak bola. Penjualan tiket final bahkan menjadi sorotan karena sempat muncul di situs resmi dengan harga mencapai 2 juta dolar AS per kursi.

Kritik ini muncul di tengah klaim optimistis Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengenai besarnya antusiasme publik terhadap penyelenggaraan Piala Dunia edisi mendatang. Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak kursi kosong pada berbagai laga fase grup sejak penjualan dibuka pertama kali pada Desember lalu.

Artikel terkait

Rekomendasi