Dewan Gubernur Federal Reserve menunjuk Jerome Powell sebagai ketua sementara atau chair pro tempore bank sentral Amerika Serikat, dilansir dari Money. Langkah penunjukan ini dilakukan seiring berakhirnya masa jabatan Powell sebagai ketua pada Jumat (15/5/2026).
ÔÇ£Powell akan menjabat sebagai chair pro tempore sampai Warsh diambil sumpahnya sebagai ketua baru,ÔÇØ kata Dewan Gubernur The Fed.
Proses transisi kepemimpinan ini mengikuti praktik transisi sebelumnya di tubuh bank sentral AS setelah Kevin Warsh dikonfirmasi Senat AS pada Rabu (13/5/2026). Warsh yang menjadi pilihan Presiden Donald Trump akan memimpin selama empat tahun ke depan.
Meskipun demikian, transisi kepemimpinan ini dilaporkan tidak berjalan mulus karena mendapat penolakan dari dalam internal bank sentral. Dua anggota Dewan Gubernur The Fed, Stephen Miran dan Michelle Bowman, menolak keputusan tersebut akibat tidak adanya batas waktu yang jelas mengenai status pejabat sementara.
Powell sendiri dilaporkan akan tetap berada di Dewan Gubernur The Fed sampai proses penyelidikan hukum terhadap dirinya dihentikan oleh pemerintah. Kondisi pergantian kepemimpinan ini juga terjadi saat pasar keuangan Amerika Serikat tengah berada di bawah tekanan.
Para investor saat ini terus memantau pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS akibat kekhawatiran inflasi dan defisit anggaran. Yield obligasi tenor dua tahun naik lebih dari 0,5 poin persentase, sedangkan tenor 30 tahun menembus level 5,1 persen.
Pasar memperkirakan bank sentral di bawah kepemimpinan Warsh berpotensi menaikkan suku bunga secepatnya pada Januari mendatang. Warsh dikenal sebagai tokoh yang mendorong pendekatan kebijakan moneter tradisional dengan fokus utama pada pengendalian inflasi.
Warsh juga dikenal sangat kritis terhadap kebijakan pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing (QE) berupa pembelian obligasi besar-besaran saat krisis. Saat ini, total aset bank sentral AS tercatat berada di kisaran 6,7 triliun dollar AS.
Kondisi pasar keuangan yang tertekan ini memicu kekhawatiran dari pengamat ekonomi terhadap keberlangsungan dunia usaha dan anggaran pemerintah AS. Tekanan yang datang dari pemerintahan Trump mengenai penurunan suku bunga turut membuat independensi lembaga ini menjadi sorotan global.