PT Pupuk Indonesia menyatakan kesiapan kapasitas produksi dan pasokan untuk mengekspor 250.000 ton pupuk urea ke Australia guna mendukung kebijakan pemerintah pada Jumat (24/4/2026). Langkah strategis ini dilakukan menyusul adanya persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan pengiriman komoditas tersebut ke luar negeri.
Kepastian ketersediaan stok tersebut dilansir dari Money untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas sebelum dialokasikan ke pasar ekspor. Perusahaan mencatat total kapasitas produksi urea nasional mencapai 9,4 juta ton per tahun, dengan proyeksi produksi pada 2026 sebesar 7,8 juta ton.
Kebutuhan domestik diperkirakan hanya menyentuh angka 6,3 juta ton, sehingga terdapat selisih produksi yang memadai untuk dikirim ke mancanegara. Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menjelaskan bahwa infrastruktur produksi saat ini sangat kompetitif dalam menangkap peluang pasar global.
"Kami memastikan kesiapan dari sisi produksi maupun pasokan untuk mendukung rencana pemerintah. Kapasitas yang kami miliki memadai untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menangkap peluang ekspor," kata Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Indonesia.
Stabilitas pasokan dan harga gas alam sebagai bahan baku utama menjadi faktor kunci yang mendukung keberlanjutan operasional pabrik. Rahmad menambahkan bahwa ketersediaan stok nasional hingga pertengahan pekan ini berada pada level 1,19 juta ton, dengan kemampuan produksi harian mencapai 25.000 ton urea dan 15.000 ton pupuk NPK.
"Kapasitas produksi yang kami miliki dapat menjaga kebutuhan pupuk nasional tetap terpenuhi, sekaligus membuka ruang bagi Indonesia untuk berperan dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk regional," kata Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Indonesia.
Skema pengiriman yang disiapkan perusahaan akan melalui mekanisme antar-pemerintah atau government to government. Manajemen menekankan bahwa perhitungan kuota ekspor dilakukan dengan pengawasan ketat agar tidak mengganggu distribusi untuk petani lokal di seluruh wilayah Indonesia.
"Sebagaimana arahan pemerintah, prioritas utama kami tetap pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Ekspor dilakukan secara selektif dan terukur dengan mempertimbangkan keseimbangan pasokan nasional," ujar Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Indonesia.
Rencana kerja sama ini mendapatkan respons positif dari pihak Australia setelah adanya komunikasi langsung antara pimpinan kedua negara. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Australia Anthony Albanese telah menyampaikan apresiasinya melalui sambungan telepon pada Selasa (21/4/2026).
"PM Albanese menyampaikan apresiasi atas persetujuan Bapak Presiden terkait ekspor pupuk urea Indonesia ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap pertama," kata Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet.