Kementerian Keuangan Thailand memproyeksikan penurunan kedatangan wisatawan mancanegara dan pertumbuhan ekonomi nasional pada Selasa (28/4/2026) akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Gejolak harga energi global yang dipicu konflik tersebut menjadi penyebab utama koreksi target ekonomi tahun ini.
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand diperkirakan melambat ke angka 1,6 persen, menyusut signifikan dibandingkan capaian 2,4 persen pada tahun 2025. Penurunan proyeksi ini dilansir dari Detik Travel yang mengutip pernyataan resmi kementerian terkait perubahan situasi geopolitik dunia.
Sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Thailand turut terdampak dengan estimasi kunjungan wisatawan asing turun menjadi 33,5 juta orang. Angka tersebut berkurang sekitar dua juta orang dari target awal pemerintah sebesar 35,5 juta kunjungan.
Data kementerian menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan bakar pesawat menjadi hambatan besar bagi pelancong asal Eropa dan Timur Tengah. Kondisi ini membuat biaya perjalanan melonjak drastis bagi wisatawan dari wilayah yang tengah dilanda konflik atau terdampak langsung secara ekonomi.
Kunjungan dari Timur Tengah tercatat merosot hingga sepertiga pada Maret 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Wisatawan asal Eropa juga mengalami penurunan sebesar empat persen, berbanding terbalik dengan pasar Asia yang justru tumbuh enam persen.
Selain sektor pariwisata, tantangan ekonomi domestik diperberat dengan lonjakan inflasi inti yang diprediksi menyentuh angka tiga persen. Angka ini naik tajam dari perkiraan awal Pemerintah Thailand yang semula hanya memproyeksikan inflasi sebesar 0,3 persen tahun ini.