Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memanggil Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo untuk mengadakan rapat kerja di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Jajaran pejabat bank sentral, termasuk Deputi Gubernur BI, telah hadir di Ruang Rapat Komisi XI. Rapat tersebut mengonfirmasi pembahasan laporan kinerja BI tahun 2025.
Langkah pemanggilan ini bertepatan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang kembali tertekan di pasar keuangan. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Money, mata uang Garuda melemah hingga menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh perpaduan tekanan dari sektor eksternal dan domestik.
Depresiasi mata uang lokal terus berlanjut hingga menembus level terendah baru. Pada perdagangan siang ini, Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah merosot ke angka Rp 17.680 per dollar AS. Situasi tersebut membuat jajaran BI diberondong berbagai pertanyaan kritis oleh Anggota Komisi XI DPR RI.
Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino menyoroti kemerosotan nilai tukar yang tetap terjadi meskipun bank sentral telah mengerahkan berbagai kebijakan. BI tercatat telah melakukan intervensi pasar yang menurunkan cadangan devisa menjadi 146 miliar dollar AS, serta menaikkan yield SRBI ke posisi 6,40 persen.
Selain itu, bank sentral telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 332 triliun pada 2025 dan menambah Rp 133 triliun pada tahun ini. Batas pembelian dollar AS per orang juga telah diturunkan dari 10.000 dollar AS menjadi 50.000 dollar AS.
"Maka pertanyaan kritis adalah semua instrumen yang dimiliki sudah dilakukan tetapi kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?" tanya Harris ke Perry.
Harris mengakui bahwa pelemahan ini sebagian besar dipengaruhi oleh faktor global yang turut menekan mata uang di berbagai negara. Namun, ia juga mengingatkan adanya persoalan di dalam negeri.
"Kemungkinan penyebabnya adalah yang Bapak katakan di presentasi tekanan global sangat besar ini memang diakui tekanan global sangat besar tetapi harus diakui juga ada masalah serius di domestik," tutur Harris.