Dompet Dhuafa Salurkan THR bagi 50 Porter Stasiun Pasar Senen

Dompet Dhuafa Salurkan THR bagi 50 Porter Stasiun Pasar Senen
Foto: Ilustrasi Dompet Dhuafa Salurkan THR bagi 50 Porter Stasiun Pasar Senen.

Dompet Dhuafa menyalurkan tunjangan hari raya (THR) kepada 50 porter di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, pada Rabu (12/03/2025) sebagai bentuk apresiasi terhadap pekerja sektor informal. Langkah ini menyasar kelompok yang tidak memiliki keterikatan kontrak kerja formal sehingga tidak mendapatkan hak tunjangan secara otomatis, sebagaimana dilansir dari Investortrust.

Program bertajuk THR Pejuang Keluarga ini merupakan agenda rutin tahunan yang menyasar para pekerja tanpa gaji tetap. Selain uang tunai, pihak lembaga juga memberikan paket bingkisan guna mendukung kesejahteraan para pekerja yang tetap bertugas melayani pemudik selama bulan Ramadan.

Kemitraan Program Sosial Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa, Rahayu Saputro, menyatakan bahwa inisiatif ini ditujukan khusus bagi mereka yang tidak memiliki hak atas tunjangan hari raya resmi. Para porter dianggap sebagai elemen penting yang membantu kelancaran pelayanan masyarakat saat masa mudik berlangsung.

"Kami ingin memberikan apresiasi kepada para porter yang membantu pelayanan masyarakat saat mudik. Mereka tidak memiliki gaji tetap atau tunjangan hari raya, sehingga mereka juga berhak mendapatkan apresiasi seperti pekerja lainnya," ujar Rahayu.

Selain menyasar profesi porter, bantuan serupa turut didistribusikan kepada kelompok pekerja informal lainnya di berbagai lokasi. Beberapa kategori penerima manfaat mencakup guru mengaji, marbot masjid, hingga kaum lansia yang masih aktif bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Wakil Kepala Stasiun Pasar Senen, Galuh, menjelaskan bahwa keberadaan porter saat ini merupakan hasil pengalihan profesi dari pedagang asongan sejak adanya larangan berjualan di area stasiun. Pihak stasiun menilai peran mereka sangat vital dalam membantu mobilitas penumpang yang membawa banyak barang bawaan.

"Para porter memiliki peran besar dalam kelancaran pelayanan di stasiun, terutama dalam membantu penumpang membawa barang bawaan. Sehingga keberadaan porter sangat membantu," jelas Galuh.

Salah satu penerima bantuan, Suratman (62), merupakan pekerja asal Kebumen yang telah merantau ke Jakarta sejak 1983. Pria yang tinggal di kontrakan sekitar stasiun ini mengaku mulai beralih profesi menjadi porter sejak tahun 2012 setelah sebelumnya bekerja sebagai pedagang asongan.

"Saya ngontrak ramai-ramai tidak jauh dari stasiun, bersama teman-teman porter juga," kata Suratman.

Suratman menyebutkan bahwa meski jumlah penumpang meningkat selama Ramadan, ia seringkali baru pulang ke kampung halaman tepat sehari sebelum Idulfitri. Hal tersebut dilakukan demi memaksimalkan pendapatan di tengah keterbatasan kondisi fisiknya yang mulai menurun.

"Dulu waktu masih muda, saya sering Lebaran di Jakarta. Sekarang, sebisa mungkin saya pulang," ungkap Suratman.

Meskipun mampu membiayai pendidikan anak-anaknya hingga ke bangku kuliah, ia mengakui bahwa pendapatan harian sebagai porter sangat bergantung pada jumlah penumpang. Pada hari biasa, ia terkadang hanya mendapatkan satu hingga dua pelanggan dengan upah yang tidak menentu.

"Apalagi sekarang saya sudah tidak sekuat dulu. Kalau tidak musim mudik, pelanggan lebih sedikit. Sehari kadang hanya dapat satu atau dua pelanggan," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi