Dompet Dhuafa Integrasikan Ekonomi Hijau dalam Program Kurban 2026

Dompet Dhuafa Integrasikan Ekonomi Hijau dalam Program Kurban 2026
Foto: Ilustrasi Dompet Dhuafa Integrasikan Ekonomi Hijau dalam Program Kurban 2026.

Lembaga filantropi Dompet Dhuafa memperkenalkan inovasi ibadah kurban sebagai solusi krisis iklim melalui ekosistem ekonomi hijau dalam ajang Green Jobs Fest 2026 di Cibis Park, Jakarta Selatan, Sabtu (25/4/2026). Dilansir dari Nasional, pendekatan ini mengintegrasikan aspek nutrisi, spiritual, hingga pengelolaan limbah peternakan yang berkelanjutan.

Program Tebar Hewan Kurban (THK) yang telah berjalan selama puluhan tahun kini difokuskan untuk mendorong kemandirian peternak kecil di tingkat akar rumput. Pengelolaan operasional dilakukan dengan memperhatikan dampak ekologi secara menyeluruh dari hulu hingga ke hilir.

Ketua Kurban Dompet Dhuafa 2026, Ali Bastoni, menjelaskan bahwa lembaga memandang kurban sebagai sebuah siklus ekonomi yang memiliki keterkaitan erat dengan kelestarian lingkungan.

"Di Dompet Dhuafa, kami melihat kurban sebagai siklus ekonomi yang kompleks. Dalam konteks ekonomi hijau, ada aspek nutrisi, spiritual, hingga pengelolaan limbah yang harus diperhatikan dampak ekologinya," ujar Ali Bastoni, Ketua Kurban Dompet Dhuafa 2026.

Upaya meminimalkan emisi metana dilakukan melalui kemitraan dengan DD Farm untuk mengolah limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik. Langkah ini bertujuan agar aktivitas peternakan tidak mencemari lingkungan sekitar lokasi program.

"Jika tidak dikelola, limbah peternakan dapat menimbulkan dampak lingkungan seperti gas metana. Karena itu, kami menginisiasi pengelolaan limbah agar tidak mencemari lingkungan," jelas Ali Bastoni, Ketua Kurban Dompet Dhuafa 2026.

Selain pengelolaan limbah, inovasi juga diterapkan pada proses distribusi daging di wilayah terdepan, terluar, tertinggal (3T) dengan mengganti plastik sekali pakai. Penggunaan daun jati dan wadah rotan menjadi pilihan untuk mengurangi sampah sekaligus memberdayakan perajin lokal.

Dompet Dhuafa turut mengembangkan skema dana abadi atau endowment fund serta pendampingan berkelanjutan untuk mentransformasi penerima manfaat menjadi peternak mandiri.

"Membantu itu penting, tetapi yang lebih berdampak adalah membuat mereka mandiri melalui pendampingan berkelanjutan. Dari penerima manfaat, mereka bisa menjadi pemberi manfaat," kata Ali Bastoni, Ketua Kurban Dompet Dhuafa 2026.

Manager Strategic Partnerships Krealogi, Wilda Romadona, dalam diskusi tersebut menekankan bahwa sektor ekonomi hijau membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan interpersonal yang kuat.

"Pekerjaan di sektor ini tidak terbatas pada jurusan tertentu. Dibutuhkan juga soft skills, seperti komunikasi, manajemen pemangku kepentingan, dan kemampuan analitis, terutama bagi generasi muda," ujar Wilda Romadona, Manager Strategic Partnerships Krealogi.

Potensi besar Indonesia dalam pengembangan produk berbasis sumber daya lokal turut disoroti sebagai peluang besar bagi industri keberlanjutan. Namun, penguatan strategi merek dan inovasi menjadi syarat mutlak agar produk lokal mampu bersaing secara global.

"Indonesia unggul dari sisi bahan baku, tetapi masih perlu mendorong inovasi dan keberanian untuk tampil berbeda dalam program keberlanjutan," kata Veronica, Founder & Director Saka Dala.

Dalam ajang tersebut, Dompet Dhuafa juga menyediakan Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) berupa unit medis dan ambulans bagi pengunjung. Program kurban digital dan aksi penanaman mangrove menjadi bagian dari gerakan pelestarian lingkungan yang didorong oleh lembaga tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi