Nilai tukar dollar Amerika Serikat terpantau bergerak stabil pada perdagangan Senin seiring langkah pelaku pasar yang cenderung berhati-hati merespons ketidakpastian upaya penghentian konflik di Timur Tengah. Dilansir dari Money, tertutupnya jalur distribusi energi di Selat Hormuz menjadi faktor penahan pergerakan pasar valuta asing global.
Indeks dollar AS tercatat berada pada level 98,491 yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Sementara itu, mata uang euro diperdagangkan stabil pada posisi 1,1724 dollar AS dan poundsterling tertahan di level 1,3536 dollar AS.
Kondisi pasar saat ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dan penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi seperlima distribusi minyak dan gas dunia. Meski sempat muncul harapan melalui proposal baru Iran lewat Pakistan untuk membuka kembali jalur tersebut, negosiasi nuklir diprediksi akan tertunda.
Analis senior Capital.com, Kyle Rodda, memberikan pandangannya mengenai sikap pasar yang dinilai terlalu optimis terhadap proses perdamaian di kawasan konflik tersebut.
"Saya terkejut bahwa pasar begitu percaya diri, bahkan mungkin acuh tak acuh, tentang kemajuan dalam pembicaraan dan prospek kesepakatan damai," kata Kyle Rodda.
Rodda memperingatkan bahwa stabilitas yang ada saat ini bersifat rentan jika kesepakatan final tidak segera tercapai untuk meredakan pertempuran yang terjadi sejak Februari.
"Perdamaian mungkin tidak akan bertahan dan jika tidak, pasar harus melakukan penyesuaian harga yang cukup drastis," lanjut Kyle Rodda.
Ketidakpastian ini turut memicu kenaikan harga energi dunia dengan minyak Brent naik 1 persen ke posisi 106,7 dollar AS per barel, atau sekitar Rp 1.837.000. Minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan 1,2 persen menuju level 95,53 dollar AS per barel atau setara Rp 1.645.000.
Kepala Ekonom AMP, Shane Oliver, menyoroti risiko stagflasi yang menghantui pertumbuhan ekonomi global akibat lonjakan harga energi tersebut.
"Meskipun periode stagflasi ringan sudah diperkirakan, waktu terus berjalan untuk melihat apakah ini akan berubah menjadi periode yang lebih parah seperti yang terlihat pada tahun 1970-an," kata Shane Oliver.
Fokus investor kini tertuju pada pertemuan bank sentral global, termasuk Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan Selasa besok. Mata uang yen Jepang saat ini berada di level 159,51 per dollar AS, mendekati level psikologis yang memicu risiko intervensi pemerintah.
Chief Investment Officer Allianz Global Investors, Gregor Hirt, memprediksi bank sentral Jepang akan tetap berhati-hati dalam memberikan sinyal kebijakan ke depan.
"Namun, investor tidak perlu mengharapkan sinyal agresif pada pertemuan April. Sebaliknya, BOJ kemungkinan akan lebih menyukai strategi panduan bertahap untuk mempertahankan pilihan di tengah ketidakpastian," ujar Gregor Hirt.
Selain BoJ, sejumlah bank sentral utama seperti Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa, dan Bank of England juga dijadwalkan menggelar rapat pekan ini untuk mengevaluasi dampak konflik terhadap inflasi global.