Dolar AS Bertahan Tinggi akibat Kekhawatiran Inflasi Global

Dolar AS Bertahan Tinggi akibat Kekhawatiran Inflasi Global
Foto: Ilustrasi Dolar AS Bertahan Tinggi akibat Kekhawatiran Inflasi Global.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam enam pekan pada perdagangan Rabu (20/5/2026) seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga dan ketidakpastian perang Iran. Konflik ini memicu kekhawatiran inflasi global akibat lonjakan harga energi.

Penguatan mata uang Paman Sam terjadi saat pelaku pasar memperhitungkan potensi Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, seperti dilansir dari Internasional. Ketidakpastian akhir konflik di Timur Tengah turut menekan sentimen pasar dan memicu aksi jual obligasi global hingga imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Selasa (19/5/2026) bahwa Washington masih berpotensi kembali menyerang Iran. Namun, ia mengindikasikan bahwa Teheran ingin mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang mengguncang pasar global tersebut.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat stabil di level 99,306 setelah menguat lebih dari 1% sepanjang Mei 2026. Di sisi lain, euro diperdagangkan di level US$ 1,1608, poundsterling Inggris berada di posisi US$ 1,3398, sedangkan dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing melemah ke level US$ 0,7097 dan US$ 0,5822.

Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai lebih dari 50%. Kondisi ini berbalik tajam dibanding ekspektasi sebelum perang Iran pecah yang memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga.

Analisis pergerakan mata uang kini tertuju pada sikap bank sentral AS yang diperkirakan tetap ketat. Pelaku pasar juga menantikan risalah rapat Federal Reserve yang akan dirilis kemudian hari untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

"Kami masih memperkirakan FOMC memulai siklus pengetatan kebijakan pada Desember," ujar Carol Kong, Strategis Mata Uang Commonwealth Bank of Australia.

Kenaikan dolar AS tersebut ikut menekan yen Jepang mendekati level intervensi pemerintah, yakni di posisi 159,03 per dolar AS pada perdagangan terakhir. Langkah intervensi pasar valuta asing sebelumnya telah dilakukan otoritas Jepang pada akhir April dan awal Mei saat yen mendekati level 160 per dolar AS.

Situasi ini membuat area sensitif pada mata uang Jepang tersebut terus dipantau oleh para pelaku pasar global. Respons otoritas moneter Jepang diprediksi hanya akan memberikan dampak jangka pendek jika penguatan dolar terus berlanjut.

"Risiko intervensi membuat pasar lebih berhati-hati mendorong dolar/yen lebih tinggi. Namun selama imbal hasil obligasi AS dan dolar tetap kuat, aksi otoritas kemungkinan hanya memperlambat pelemahan yen sementara waktu," ujar Christopher Wong, Strategis Mata Uang OCBC.

Artikel terkait

Rekomendasi