Dinda Kirana dan Haico van der Veken Ungkap Red Flag Toxic Relationship

Dinda Kirana dan Haico van der Veken Ungkap Red Flag Toxic Relationship
Foto: Ilustrasi Dinda Kirana dan Haico van der Veken Ungkap Red Flag Toxic Relationship.

Kesadaran mengenai hubungan beracun atau toxic relationship kini semakin menjadi perhatian publik. Fenomena ini bisa berupa tindakan manipulasi, gaslighting, hingga perilaku abusif yang sering kali sulit disadari oleh mereka yang mengalaminya.

Dua aktris muda, Dinda Kirana dan Haico van der Veken, membagikan pandangan mereka mengenai tanda-tanda bahaya atau red flag dalam hubungan. Kisah ini dibagikan saat keduanya menghadiri bincang-bincang untuk serial terbaru mereka yang berjudul Bercinta dengan Maut di IDN HQ pada pertengahan Mei 2026 kemarin, seperti dilansir dari Popbela.

Melalui serial tersebut, Dinda dan Haico menyampaikan bahwa setiap individu memiliki tolok ukur tersendiri dalam menilai kesehatan hubungan mereka. Penilaian ini krusial untuk menentukan apakah sebuah jalinan asmara masih aman dipertahankan atau sebaiknya diakhiri demi keselamatan emosional.

Dalam kesempatan tersebut, Dinda Kirana menceritakan pengalaman pribadinya yang pernah terjebak dalam hubungan tidak sehat selama empat tahun. Ia mengaku baru menyadari kondisi beracun itu setelah menjalaninya dalam waktu yang cukup lama.

ÔÇ£Banyak banget sih dan setiap orang tuh beda-beda. Dulu tuh aku sempat stay di toxic relationship 4 tahun dan aku kayak baru nyadar ÔÇÿoh iya toxic sihÔÇÖ,ÔÇØ ceritanya.

Dinda mengungkapkan bahwa motivasi awalnya bertahan adalah keyakinan keliru bahwa ia bisa mengubah tabiat pasangannya. Namun, pola pikir tersebut justru menjadi bumerang yang merusak kesejahteraan mentalnya sendiri.

ÔÇ£Mungkin dulu tuh ada perasaan seperti aku bisa fix orang ini. Itu ternyata kita toxic sama diri kita sendiri, tapi kita nggak sadar gitu lho. Jadi, itu yang kamu nggak sadar merusak dirimu sendiri. Kamu mau coba menyelamatkan orang lain, tapi kamu nggak selamatkan diri sendiri. Itu toxic lho,ÔÇØ kata Dinda.

Ia juga menyoroti stigma masyarakat yang sering melabeli seseorang sebagai figur egois atau memiliki sifat menghindar ketika mencoba mengambil jarak demi kenyamanan diri.

ÔÇ£Kalau aku ngomong gitu (memikirkan diri sendiri) nanti ada yang billing ÔÇÿkamu egois bangetÔÇÖ, ÔÇÿkamu cuma mikirin diri sendiriÔÇÖ. Terus, kalau misalkan kita merasa nggak nyaman dan kita butuh step back dulu, dibilang avoidance,ÔÇØ tambahnya.

Merespons hal itu, Haico van der Veken sepakat bahwa memprioritaskan diri sendiri adalah fondasi utama untuk menilai kualitas sebuah hubungan. Dinda kemudian menambahkan bahwa indikator hubungan yang baik dapat dilihat dari adanya pertumbuhan positif di antara kedua belah pihak.

Komunikasi, Ego, dan Ekspektasi Kesempurnaan

Faktor lain yang dinilai dapat merusak keharmonisan adalah buruknya komunikasi dan tingginya ego, terutama saat salah satu pihak mulai menyimpan rahasia besar. Dinda mengaku sebagai tipe orang yang transparan dan kesulitan menyembunyikan ekspresi wajah jika ada masalah.

ÔÇ£Aku kayaknya susah deh menyimpan rahasia, karena pasti bakal ketahuan. Terus kalau misalkan aku di posisi yang kayak pasangan aku punya rahasia besar dan aku nggak tau. Mungkin aku bakal nggak bohong, aku pasti bakal melihat seperti ÔÇÿsebenarnya aku punya hubungan sama siapa sih?ÔÇÖ. ÔÇÿAku pasangan kamu, tapi kayaknya aku nggak tahu apa-apa ya tentang kamuÔÇÖ. Tapi ya pasti nggak semua begitu sih, walaupun demi kebaikan,ÔÇØ ungkap Dinda.

Selain masalah keterbukaan, ekspektasi terhadap kesempurnaan hubungan juga menjadi salah satu red flag yang disoroti dalam serial Bercinta dengan Maut. Tuntutan untuk selalu tampil tanpa cela dapat mengubah ruang aman menjadi panggung sandiwara yang memicu kelelahan emosional.

Pentingnya Saling Mendengar dan Menghormati

Menurut Haico, kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik adalah kunci utama dalam membangun komunikasi yang sehat. Hubungan berpotensi menjadi beracun apabila masing-masing pihak menolak untuk saling mendengarkan saat terjadi konflik.

ÔÇ£Yang menurut aku toxic tuh nggak mau mendengarkan satu sama lain. Maksudnya di saat kita lagi berantem sama pasangan. Oke, awalnya kan kita pasti punya cara masing-masing, kita mau langsung selesaikan masalahnya atau kita mau masing-masing dulu sendiri segala macam. Dan apa yang pasangan kita mau di saat itu, kita harus respect.

Tapi, akhirnya apa pun yang terjadi harus selalu diomongin dan mendengarkan dari dua sisi. Oke, misalnya dia mau ngomong dulu, ya sudah dengerin dulu, baru sebaliknya, cari solusi bareng-bareng,ÔÇØ jelas Haico.

Haico menegaskan bahwa sikap saling menghargai dan mendengarkan akan memperkuat rasa percaya serta membantu pasangan memahami batasan satu sama lain.

ÔÇ£Karena itu yang menurut aku bisa membuat kamu berkomunikasi dengan lebih baik sama pasangan juga. Kalian juga saling membangun kepercayaan. Jadi, tahu juga apa yang dia suka, apa yang dia nggak bisa terima. Itu jadi pelajaran ke depan untuk membangun hubungan yang kuat,ÔÇØ tutupnya.

Kekerasan, Gaslighting, dan Pemutusan Hubungan

Saat membahas mengenai batasan toleransi, baik Dinda maupun Haico menegaskan bahwa kekerasan fisik dan verbal tidak boleh ditoleransi dalam kondisi apa pun. Perilaku kasar dan gaslighting tidak hanya merusak hubungan, tetapi juga dapat menghancurkan rasa percaya diri dan kehidupan korban.

Terkait cara menyikapi individu yang memberikan dampak buruk, kedua aktris ini memilih untuk melakukan pemutusan hubungan secara total atau cut off daripada melakukan aksi balas dendam yang menguras energi fisik maupun mental.

ÔÇ£Tapi, kamu tahu? Cut off itu salah satu dendam yang kita ngga ngelakuin (secara terang-terangan), tapi dia bakal sakit banget lho. Orang bisa kayak makin sakit banget gara-gara kita hilang. Itu salah satu dendam yang halus, nggak keliatan, tapi impactful,ÔÇØ kata Dinda.

Artikel terkait

Rekomendasi