Ketika lebaran kemarin, apakah tetap memberi THR saat kondisi keuangan sedang terbatas atau justru wajar jika memilih tidak memberi demi menjaga stabilitas finansial diri sendiri?
Lebaran yang kerap identik dengan tradisi berbagi THR (Tunjangan Hari Raya). Momen ini tidak hanya tentang berkumpul bersama keluarga, tetapi juga tentang kebiasaan memberi amplop kepada keponakan, anak kerabat, hingga anak-anak di lingkungan sekitar yang datang bersilaturahmi.
Suasana tersebut terasa akrab di banyak tempat. Bahkan, tidak jarang anak-anak datang berkelompok, mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan selamat Lebaran, berharap mendapatkan sedikit rezeki dalam bentuk uang saku.
Pengalaman seperti itu pernah saya alami beberapa tahun lalu saat berkunjung ke rumah saudara. Di tengah obrolan santai, tiba-tiba datang sekitar sepuluh anak kecil yang tidak semuanya dikenali oleh tuan rumah. Mereka tetap disambut dengan ramah, diberi sejumlah uang, lalu pergi dengan tenang.
Bagi sebagian orang, situasi ini adalah hal yang lumrah. Tradisi berbagi memang telah menjadi bagian dari perayaan Lebaran yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Memberi THR tentu merupakan hal baik. Selain membahagiakan anak-anak, tindakan ini juga mempererat hubungan sosial dan menghadirkan suasana hangat dalam silaturahmi. Namun, penting untuk diingat bahwa memberi seharusnya tidak menjadi beban.
Tidak semua orang berada dalam kondisi finansial yang sama. Ada kalanya seseorang harus memprioritaskan kebutuhan lain yang lebih mendesak, seperti memenuhi kebutuhan sehari-hari atau menyelesaikan kewajiban finansial.
Dalam situasi seperti itu, memaksakan diri untuk tetap memberi justru bisa menambah tekanan. Padahal, esensi berbagi bukan terletak pada jumlah, melainkan pada keikhlasan dan kemampuan.
Jika memang ingin tetap berbagi, nominalnya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Tidak ada standar baku yang menentukan berapa besar THR yang ÔÇ£layakÔÇØ diberikan. Apa pun yang diberikan dengan tulus akan tetap bermakna.
Perlu juga disadari bahwa tidak semua orang mendapatkan THR. Misalnya, mereka yang bekerja secara mandiri atau berwirausaha sering kali tidak memiliki pendapatan tambahan di momen Lebaran.
Bahkan, ada yang harus menyisihkan uang sejak jauh hari hanya untuk bisa merasakan sedikit ÔÇ£bonusÔÇØ bagi dirinya sendiri.
Di sisi lain, dinamika zaman turut memengaruhi cara pandang terhadap tradisi ini. Media sosial, misalnya, sering kali menghadirkan tekanan tersendiri. Ada kecenderungan untuk membandingkan, bahkan tanpa disadari menjadikan nominal THR sebagai tolok ukur.
Tidak jarang, kebahagiaan anak-anak yang menerima THR dibagikan secara terbuka. Namun di balik itu, muncul pula perbandingan, siapa memberi lebih banyak, siapa memberi lebih sedikit. Hal-hal seperti ini perlahan bisa menggeser makna awal dari tradisi berbagi.
Padahal, setiap orang memiliki cerita dan kondisi yang berbeda. Seseorang yang memberi dalam jumlah kecil belum tentu pelit, bisa jadi ia sedang berusaha menjaga keseimbangan keuangannya. Dan tidak semua orang nyaman atau perlu menjelaskan kondisi tersebut kepada orang lain.
Lebaran seharusnya menjadi momen untuk kembali pada nilai-nilai dasar: kebersamaan, rasa syukur, dan saling memahami. Bukan ajang pembuktian atau perbandingan.
Karena itu, penting untuk memberi ruang pada diri sendiri untuk bersikap bijak. Tidak memberi THR bukan berarti menghilangkan makna Lebaran. Ada banyak cara lain untuk berbagi melalui kehadiran, perhatian, atau doa yang tulus.
Pada akhirnya, yang paling memahami kondisi finansial seseorang adalah dirinya sendiri. Tidak perlu merasa bersalah atau takut dinilai oleh orang lain.
Kehidupan memiliki dinamika yang terus berputar ada masa lapang, ada pula masa yang menuntut kehati-hatian.
Menjaga keseimbangan diri, termasuk dalam hal keuangan, juga merupakan bentuk tanggung jawab. Sebab dari kondisi yang stabil, kita justru bisa memberi dengan lebih tulus di waktu yang tepat.