JAKARTA, investor.id - BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai depresiasi nilai tukar rupiah (IDR) saat ini yang telah menembus Rp 17.600 per dolar AS (USD) telah memasuki "skenario terburuk". Penyesuaian suku bunga acuan (BI-Rate) dipandang mendesak untuk menstabilkan ekspektasi dan memulihkan kepercayaan pasar.
Pandangan ini dituangkan BRI Danareksa Sekuritas dalam "Economic Research ÔÇô Macro Strategy" edisi 18 Mei 2026. Menurut mereka, tekanan terhadap rupiah tak berhenti sejak awal tahun. Meskipun sejumlah metrik riset untuk mengukur tekanan eksternal menyatakan bahwa rupiah semakin terdevaluasi, berlanjutnya tekanan eksternal mengindikasikan bahwa pelemahan tersebut mungkin tidak lagi semata-mata didorong oleh kesalahan penilaian harga pasar yang bersifat siklus.
ÔÇ£Sebaliknya, hal ini mungkin menandakan pergeseran bertahap dalam keseimbangan struktural mata uang, yang memerlukan kebijakan kontra yang lebih terkoordinasi dari pemangku kepentingan utama untuk memulihkan kepercayaan, menstabilkan ekspektasi, dan mencegah tekanan lebih lanjut terhadap IDR,ÔÇØ ungkap BRIDS dalam risetnya.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup babak belur pada Senin (18/5/2026), dihajar berjibun sentimen negatif global, mulai dari penguatan dolar AS, inflasi energi, The Fed, dan ketegangan geopolitik global.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini ambles 71 poin (0,4%) ke level Rp 17.668 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,07% ke level 99,21.
BRIDS melihat tekanan saat ini telah masuk ke skenario terburuk yang keseluruhan prasyarat telah terpenuhi. Dalam skenario ini, rupiah melemah menuju Rp 17.400 dan imbal hasil (yield) surat utang naik di atas 7%. Sejumlah indikator ini akan mendorong suku bunga BI atau BI-Rate perlu naik sebesar 25 basis points (bps).
ÔÇ£Oleh karena itu, kami percaya probabilitas kenaikan suku bunga BI telah meningkat secara signifikan pada tahap ini,ÔÇØ terang BRI Danareksa Sekuritas.
Meskipun BI mungkin masih lebih memilih menggunakan intervensi valuta asing, penyerapan likuiditas Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan stabilisasi pasar obligasi sebagai langkah-langkah pertama, penurunan nilai IDR yang terus berlanjut saat ini meningkatkan kebutuhan akan respons suku bunga kebijakan untuk menstabilkan ekspektasi dan memulihkan kepercayaan pasar.
Lebih Buruk
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Dewan Energi Pastikan Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Subsidi Pertalite dan LPG
Soal Orang Desa Tak Pakai Dolar, Purbaya: Prabowo Paham Betul Soal Rupiah
Prabowo Panggil Perry hingga Purbaya ke Istana di Tengah Tekanan Rupiah
BI Optimis Rupiah akan Menguat ke Rp 16.200-16.800 per Dolar AS
Pengusaha Khawatir Pelemahan Rupiah Berlarut-larut
IMF Naikkan Prospek Ekonomi Inggris
Polda Riau Tetapkan Perusahaan Sawit PT MM Tersangka Kerusakan Lingkungan
Kremlin Akui Punya Ekspektasi Besar Soal Putin ke China
Alarm Hantavirus dan Kesiapsiagaan Kita
Penulis : Prisma Ardianto 18 Mei 2026 | 19:13 WIB
Analisis BRIDS dengan metrik Purchasing Power Parity (PPP)memperlihatkan bahwa rupiah menunjukkan undervaluasi, karena profil inflasi Indonesia yang terkendali semestinya mendukung penguatan mata uang garuda. Tapi metrik Real Effective Exchange Rate (REER) juga menunjukkan bahwa depresiasi IDR tidak hanya didorong oleh perbedaan inflasi tetap juga oleh kelemahan nominal yang lebih luas terhadap mitra dagang utama.
ÔÇ£Menurut pandangan kami, penurunan simultan baik pada REER maupun NEER mendukung pandangan bahwa kelemahan IDR saat ini semakin bersifat struktural dan didorong oleh faktor eksternal,ÔÇØ imbuh BRIDS.
Sebagai buktinya, selain terhadap USD, IDR juga melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dan regional tahun ini. Per 13 Mei 2026, USDIDR telah terdepresiasi sebesar 4,64% secara tahun berjalan (year to date/ytd), sementara rata-rata nilai tukar ytd mencapai Rp 16.974 per dolar AS, jauh di atas asumsi anggaran negara 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.
Rupiah juga melemah terhadap mata uang pasar maju utama, termasuk EUR (+4,37%), JPY (+3,87%), GBP (+5,14%), CHF (+6,15%), dan CAD (+4,88%). Pola serupa terlihat terhadap mata uang regional dan pasar negara berkembang, dengan IDR terdepresiasi terhadap CNY (+7,21%), MYR (+8,21%), dan SGD (+5,22%).
ÔÇ£Kelemahan yang meluas ini menunjukkan bahwa depresiasi IDR bukan hanya masalah bilateral terhadap USD, tetapi juga mencerminkan kinerja yang relatif lebih buruk dibandingkan dengan mata uang negara-negara maju maupun mata uang regional,ÔÇØ jelas BRIDS.
Selain itu, tingkat imbal hasil US Treasury yang tinggi, sikap kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, permintaan yang berkelanjutan terhadap aset USD, dan kelanjutan dominasi dolar AS telah mempertahankan kekuatan USD secara luas. Oleh karena itu, sederet risiko tersebut membatasi ruang pemulihan rupiah dalam jangka pendek.
ÔÇ£Situasi ini memerlukan respons kebijakan yang lebih berfokus pada domestik, potensial melalui kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas IDR,ÔÇØ kata BRIDS.
Macroeconomy 2 menit yang lalu Rupiah Masuk Skenario Terburuk Rupiah masuk skenario terburuk. Penyesuaian BI-Rate dipandang mendesak untuk menstabilkan ekspektasi dan memulihkan kepercayaan pasar.
National 52 menit yang lalu Polda Riau Tetapkan Perusahaan Sawit PT MM Tersangka Kerusakan Lingkungan Ditreskrimsus Polda Riau menetapkan PT Musim Mas sebagai tersangka korporasi atas kerusakan lingkungan hidup akibat penanaman sawit.
International 2 jam yang lalu Kremlin Akui Punya Ekspektasi Besar Soal Putin ke China Presiden Putin siap kunjungi China esok hari. Kremlin akui punya ekspektasi besar perkuat kemitraan dan bahas proyek pipa gas raksasa.
InveStory 2 jam yang lalu Alarm Hantavirus dan Kesiapsiagaan Kita Sekecil apa pun indikasi penyakit baru harus direspons cepat, terukur, dan berbasis sains karena berdampak pada kesehatan dan fiskal negara.
InveStory 2 jam yang lalu Miliki Kesalahan Anda dan Terus Belajar Pernah merasakan kegagalan jadi fondasi bagi Billy Theristine Lim, Komisaris Utama PT Andalan Artha Primanusa, untuk membangun perusahaan.