Dendam di Balik Kegagalan Generasi Emas Timnas Inggris

Dendam di Balik Kegagalan Generasi Emas Timnas Inggris
Foto: Ilustrasi Dendam di Balik Kegagalan Generasi Emas Timnas Inggris.

Mantan bintang Manchester United, Rio Ferdinand, baru saja membuka tabir gelap dari masa lalunya saat masih berseragam Timnas Inggris. Sebagai bek tangguh yang mengumpulkan 81 penampilan bersama Three Lions, Ferdinand merupakan pilar utama dari apa yang sering diagungkan media sebagai Generasi Emas. Namun, di balik kemegahan nama-nama besar Liga Premier yang menghuni skuad tersebut, tersimpan friksi tajam yang tidak pernah terungkap ke publik selama bertahun-tahun.

Sebutan Generasi Emas sejatinya muncul karena Timnas Inggris saat itu dihuni oleh para megabintang yang sangat dihormati di level klub. Namun, prestasi mereka justru berbanding terbalik dengan reputasi individu para pemainnya. Antara tahun 2000 hingga 2010, Inggris justru lebih akrab dengan kegagalan di berbagai turnamen prestisius. Ferdinand mengakui bahwa salah satu penyebab rapuhnya fondasi tim adalah hubungan pribadinya dengan pemain kunci lainnya.

Dalam sebuah wawancara mendalam, Ferdinand mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa ia sangat tidak menyukai Steven Gerrard. Perasaan benci tersebut rupanya tidak bertepuk sebelah tangan karena Gerrard pun merasakan hal yang sama. Meskipun keduanya harus bahu-membahu dalam 49 pertandingan internasional demi lambang tiga singa di dada, tembok tinggi rivalitas klub tetap berdiri kokoh di antara mereka.

"Steven Gerrard tidak menyukai saya dan saya juga tidak terlalu menyukainya," ujar Rio Ferdinand, Mantan Bek Timnas Inggris.

Persaingan sengit antara Manchester United dan Liverpool menjadi akar permasalahan utama. Ferdinand menjelaskan bahwa sikap dingin tersebut merupakan produk sampingan dari kebencian historis antara kedua klub raksasa tersebut. Atmosfer kompetitif di liga domestik rupanya terlalu beracun untuk ditinggalkan di depan gerbang pusat latihan tim nasional.

"Ada kebencian antara kami dan tim kami [United dan Liverpool]. Tapi sekarang kami sudah mengesampingkan semua itu," kata Rio Ferdinand, Mantan Bek Timnas Inggris.

Kegagalan Kolektif dan Budaya Terisolasi

Dampak dari ketidakharmonisan ini terlihat nyata di lapangan. Pada Piala Dunia 2006, saat Ferdinand dan Gerrard menjadi andalan utama, Inggris harus tersingkir menyakitkan di babak perempat final. Empat tahun berselang di Afrika Selatan, Gerrard tetap menjadi sosok sentral sementara Ferdinand harus absen karena cedera sesaat setelah bergabung dengan skuad. Gerrard, yang mengantongi 114 caps, bahkan pernah melontarkan kritik pedas dengan menyebut rekan-rekan di generasinya sebagai pecundang yang egois.

Setelah gantung sepatu, sudut pandang Gerrard mulai melunak. Ia mengaku terinspirasi melihat bagaimana Jamie Carragher dan Paul Scholes, yang dahulu merupakan musuh bebuyutan di lapangan, kini bisa duduk berdampingan dengan akrab di studio televisi. Transformasi hubungan dari lawan menjadi kawan ini juga terjadi pada hubungannya dengan Ferdinand.

"Saya sedang menonton televisi sekarang dan saya melihat [Jamie] Carragher duduk di sebelah Paul Scholes dalam debat penggemar ini dan mereka terlihat seperti sudah berteman baik selama 20 tahun," kata Steven Gerrard, Mantan Kapten Timnas Inggris.

Perubahan sikap ini membuat Gerrard merasa jauh lebih dekat dengan Ferdinand saat ini dibandingkan saat mereka masih aktif bermain selama 15 tahun. Gerrard tidak menampik spekulasi bahwa ada perpecahan internal yang masif di dalam skuad Inggris kala itu. Ia menunjuk budaya tim yang buruk sebagai alasan mengapa para pemain berbakat tersebut tidak pernah bisa benar-benar menyatu sebagai sebuah kesatuan yang solid.

"Dan saya melihat hubungan Carragher dengan Gary Neville dan mereka tampak seperti sudah berteman selama 20 tahun. Saya mungkin lebih dekat dan bersahabat dengan Anda sekarang daripada saat saya bermain bersama Anda selama 15 tahun," jelas Steven Gerrard, Mantan Kapten Timnas Inggris.

Retaknya hubungan antar pemain ini membuat skuad Inggris lebih mirip sekumpulan individu hebat yang terisolasi di kamar masing-masing daripada sebuah tim sepak bola. Kurangnya koneksi antar rekan setim di luar lapangan pada akhirnya berimbas pada performa yang kurang maksimal saat peluit pertandingan dibunyikan.

"Mengapa kami tidak bisa terhubung sebagai rekan satu tim Inggris saat itu? Dan saya pikir itu disebabkan oleh budaya di dalam tim Inggris yang membuat kami semua tidak pernah terhubung. Terlalu banyak menghabiskan waktu di kamar masing-masing. Kami bukanlah sebuah tim," ungkap Steven Gerrard, Mantan Kapten Timnas Inggris.

Artikel terkait

Rekomendasi