Manajer Tottenham Hotspur, Roberto De Zerbi, melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan wasit Jarred Gillett setelah pertandingan sengit melawan Leeds United berakhir imbang 1-1. Sebagaimana dilansir dari Suara, ketidakstabilan mental ofisial pertandingan dituding menjadi penyebab lahirnya keputusan-keputusan kontroversial di lapangan.
Hasil pembagian poin ini membuat posisi skuat asuhan De Zerbi terancam masuk ke zona degradasi di pengujung musim. Titik perdebatan utama muncul ketika VAR memberikan penalti untuk Leeds United, namun di sisi lain mengabaikan dugaan pelanggaran terhadap pemain Spurs pada menit terakhir laga.
De Zerbi meyakini bahwa para pengadil lapangan sedang mengalami tekanan psikologis hebat akibat insiden VAR pada pertandingan Arsenal sehari sebelumnya. Ia merasa bahwa instruksi ketat yang diberikan wasit sejak awal laga merupakan bentuk pelarian dari rasa tidak aman mereka sendiri.
"Dari menit pertama hingga akhir pertandingan, wasit menghampiri saya dan berkata, 'jika Anda keluar [dari area teknis] maka itu akan menjadi kartu kuning.' Saya pikir mereka tidak tenang hari ini," ujar De Zerbi.
Pelatih asal Italia tersebut menduga bayang-bayang protes keras pada laga sebelumnya masih memengaruhi fokus wasit. Menurutnya, polusi mental tersebut sangat merugikan tim yang sedang berjuang keras mengamankan posisi di klasemen liga.
"Mungkin mereka menderita karena tekanan kemarin. Pertandingan Arsenal, VAR-nya," tambah De Zerbi.
Lebih lanjut, De Zerbi menyatakan keheranannya atas banyaknya keluhan publik terkait keputusan VAR di pertandingan lain. Ia menegaskan bahwa timnya justru menjadi pihak yang mendapatkan ketidakadilan yang jauh lebih nyata di lapangan.
"Saya tidak mengerti keluhan tentang VAR kemarin karena [David Raya] dilanggar 200%, bukan 100%, 200%, jika Anda ingin berbicara tentang sepak bola," tegas De Zerbi.
Di balik ketegangan masalah wasit, laga ini menjadi momen emosional kembalinya James Maddison setelah menepi selama satu tahun karena cedera lutut ganda. De Zerbi menyambut hangat kehadiran kembali gelandang kreatif tersebut meski durasi bermainnya melampaui prediksi medis.
"Berita bagus untuk kami. Dia adalah pemain yang berbeda secara kualitas, sebagai pribadi, dan saya berharap dia akan menjadi sangat penting bagi kami," ungkap De Zerbi.
Gelandang timnas Inggris itu tampil lebih lama dari perkiraan awal sang manajer setelah sempat mendiskusikan kondisi fisiknya sehari sebelum pertandingan. De Zerbi mengaku terkejut dengan determinasi sang pemain di atas lapangan hijau.
"Kemarin saya berbicara dengannya tentang kondisi fisiknya, tentang berapa menit dia bisa bermain. Dia bermain lebih banyak dari apa yang dia katakan kemarin," lanjut De Zerbi.
Manajer Leeds United, Daniel Farke, juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kembalinya Maddison ke kompetisi. Farke memiliki hubungan profesional yang erat karena pernah melatih Maddison saat keduanya masih berada di Norwich City.
"Ini pertanyaan yang berbahaya bagi saya karena saya memiliki kelemahan untuk James Maddison. Dia adalah pemain saya ketika dia masih sangat muda," kenang Farke.
Pelatih asal Jerman tersebut merasa bangga melihat perkembangan karier mantan anak asuhnya yang kini menjadi salah satu pilar penting di Inggris. Farke menyebut keberadaan pemain berbakat seperti Maddison memberikan warna tersendiri bagi sepak bola.
"Dan saya juga berharap telah membantunya sedikit untuk memulai kariernya," tambah Farke.
Farke menilai Maddison sebagai pemain tengah yang memiliki kecerdasan murni dalam memanipulasi situasi di area pertahanan lawan. Kemampuan Maddison dalam mencari ruang kosong tetap terlihat berbahaya meski ia baru saja pulih dari cedera panjang.
"Jika Anda mencintai sepak bola, maka Anda mencintai James Maddison karena bagi saya dia adalah pemain bola murni. Salah satu pemain tengah paling kreatif dan berbakat di Inggris," puji Farke.
Kecerdasan taktik Maddison diakui Farke menjadi ancaman konstan, terutama saat berada di sekitar kotak penalti lawan. Maddison dinilai sangat lihai dalam memenangkan situasi bola mati yang bisa menguntungkan timnya.
"Ia juga cerdas di dalam dan di luar kotak penalti untuk terkadang memenangkan tendangan bebas atau bahkan mungkin mencoba memenangkan penalti," tutup Farke.